BERITA

Bentrok di Berbagai Penjuru Daerah, Aparat dan Pendemo Omnibus Law

MAHASISWA terlibat kontak fisik dengan kepolisian di kawasan industri Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Rabu, 7 Oktober 2020. /Pikiran-rakyat.com/Tommi Andryandy

MEMONESIA.COM – Demo menolak pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja berujung bentrokan aparat dan pedemo di sejumlah daerah, Kamis (8/10).
Sebanyak tujuh personel kepolisian di Medan mengalami luka-luka saat mengamankan aksi tersebut.

“Anggota kita yang luka-luka ada tujuh orang, satu di antaranya Polwan,” kata Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko.

Riko menjelaskan para personel luka-luka akibat dilempari pengunjuk rasa menggunakan batu dan benda tumpul lainnya.

Ribuan pengunjuk rasa saat ini sudah bubar. Namun begitu, polisi masih tampak berjaga-jaga di sekitar Kantor DPRD Sumut.

Di Makassar, lemparan batu dan botol plastik terus diarahkan ke aparat kepolisian sehingga bentrokan kedua pun kembali terjadi.

Bentrokan pertama pecah pukul 13.58 wita dan kedua kalinya petang ini pecah pukul 17.51 wita.

Polisi membubarkan aksi pengunjuk rasa dengan gas air mata dan semprotan water canon. Tapi itu tidak mematahkan nyali pengunjuk rasa yang sejak pagi terlihat sudah dicampuri warga bukan yang tidak terkait dengan unjuk rasa termasuk anak-anak dan remaja usia sekolah.

“Kepada warga yang tidak berkepentingan, tinggalkan tempat ini. Awak media, cari posisi aman,” kata suara komando dari mobil Raisa atau Pengurai Massa.

Mereka tetap melawan dengan batu, maju lalu mundur lagi. Jarak pandang yang berkurang akibat pedihnya mata dan suasana memutih karena asap dan air, tetap saja ada lemparan.

Hingga ditemukan bukan hanya batu, anak busur pun melayang ke arah aparat kepolisian namun daya lontarnya melemah karena jauhnya jarak dan tidak ada yang kena sasaran.

Di Surabaya, polisi menembakkan gas air mata dan memukul mundur massa dari Depan Gedung Negara Grahadi.

“Revolusi! Revolusi! Revolusi!” teriak massa, Kamis (8/10).

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat sipil itu juga melakukan pelemparan botol mineral, botol kaca dan kayu ke arah polisi.

Seiring itu, polisi juga menambakkan gas air mata. Mereka juga menangkap sejumlahlah massa berpakaian bebas, tanpa seragam buruh atau jas almamater.

Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, massa dan polisi kimi twrlibat bentrok di Jalan Yos Sudarso, atau radius 500 meter dari Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Belum diketahui berapa jumlah orang yang terluka dalam bentrokan ini. Begitu juga jumlah massa yang diamankan oleh aparat.

Di Bandung, massa masih bertahan memasuki petang.

Asap hitam tampak membumbung di tengah massa aksi mahasiswa di depan DPRD Jawa Barat. Ribuan massa aksi yang didominasi mahasiswa masih bertahan di Jalan Diponegoro.


Dari pantauan CNNIndonesia.com, massa aksi tetap berpegah teguh pada tuntutannya untuk menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja meski Gubernur Jabar, Ridwan Kamil sudah mendatangi massa aksi di depan Gedung Sate.

Terdengar massa aksi mengucap sumpah mahasiswa. Kemudian berterika ‘Revolusi, Revolusi’. Tak hanya itu, massa aksi juga berteriak takbir.

Terlihat massa aksi melempar uang koin receh ke dalam Gedung. Sekitar pukul 17.20 WIB kondisi mulai memanas, terdengar massa aksi berteriak buka gerbang.

Sementara itu, para polisi dan PHH masih bersiaga dengan membuat barikade di halaman DPRD.

Artikel ini telah terbit di cnnindonesia.com dengan judul: Bentrok Aparat dan Pedemo Omnibus Law di Penjuru Daerah

.
Comments

POPULER

To Top