Dinkes Bontang Luruskan Kematian Anak 6 Tahun, DBD Bukan Satu-satunya Faktor

Admin
14 Agu 2026 15:19
2 menit membaca

MEMONESIA.COM, Bontang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang meluruskan informasi mengenai meninggalnya seorang anak berusia enam tahun di RSUD Taman Husada Bontang, Rabu (12/8/2026). Pasien tersebut memang didiagnosis demam berdarah dengue (DBD), tetapi kematiannya tidak semata-mata disebabkan penyakit tersebut.

Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan pasien juga memiliki penyakit penyerta yang kemudian memicu komplikasi selama menjalani perawatan.

Dinkes menerima laporan resmi dari RSUD Taman Husada sehari setelah pasien meninggal, Kamis (13/8/2026). Berdasarkan laporan tersebut, pasien sebelumnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit lain selama kurang lebih lima hari sebelum dirujuk ke RSUD Taman Husada.

“Pasien didiagnosis DBD dan memiliki penyakit penyerta. Sebelum dirujuk ke RSUD, pasien telah menjalani perawatan di rumah sakit lain selama kurang lebih lima hari untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” kata Toetoek, Jumat (14/8/2026).

Selama mendapat perawatan medis, kondisi pasien terus dipantau dan ditangani berdasarkan kondisi klinisnya. Namun, kondisi tersebut kemudian memburuk hingga terjadi komplikasi yang berkaitan dengan penyakit penyerta.

Karena itu, Toetoek menilai tidak tepat jika kematian pasien sepenuhnya dikaitkan dengan DBD.

“Kasus tersebut tidak tepat jika disebut sebagai kematian yang sepenuhnya disebabkan oleh DBD,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penurunan trombosit memang menjadi salah satu kondisi yang dapat ditemukan pada pasien DBD. Namun, angka trombosit tidak dapat menjadi satu-satunya indikator untuk menentukan penyebab kematian pasien.

Terlebih, dalam kasus tersebut, jumlah trombosit pasien disebut masih berada di atas 100 ribu. Kondisi pasien tetap harus dilihat secara menyeluruh, termasuk penyakit penyerta dan komplikasi yang terjadi.

“Kalau sudah didiagnosis DBD tentu trombositnya mengalami penurunan,” jelasnya.

Dinkes Bontang tidak mengungkap penyakit penyerta yang dialami pasien. Toetoek mengatakan informasi tersebut merupakan bagian dari data medis yang bersifat pribadi.

“Kami turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga pasien. Kepada media kami tidak bisa memberitahukan terkait penyakit penyerta, karena itu adalah privasi pasien,” pungkasnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x