Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang, Nuryadi Bakhtiar. Foto (Nur/Memonesia)BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mengungkap kasus anak putus sekolah kini tidak hanya dipicu persoalan ekonomi. Rendahnya minat melanjutkan pendidikan disebut menjadi faktor lain yang cukup dominan.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang, Nuryadi Bakhtiar, mengatakan pola penyebab anak berhenti sekolah mulai bergeser. Jika sebelumnya kendala biaya sering menjadi alasan utama, saat ini banyak siswa justru kehilangan motivasi belajar.
Menurutnya, kasus putus sekolah cukup banyak ditemukan pada kelompok usia sekitar 19 tahun atau setara jenjang SMA.
“Rendahnya minat belajar dan kuatnya dorongan keluarga agar anak segera bekerja menjadi faktor yang cukup berpengaruh terhadap keputusan berhenti sekolah,” ungkapnya, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, berbagai bantuan pendidikan yang disalurkan pemerintah sejatinya sudah cukup membantu kebutuhan dasar siswa. Namun, persoalan non-ekonomi masih menjadi tantangan serius.
Selain rendahnya minat sekolah, sebagian keluarga juga dinilai mendorong anak untuk segera bekerja dibanding melanjutkan pendidikan.
Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap masa depan generasi muda, karena pendidikan tetap menjadi salah satu jalan penting meningkatkan kualitas hidup dan peluang kerja.
Menghadapi situasi itu, Disdikbud Bontang akan menyiapkan pendekatan sosial yang lebih intensif, termasuk pendampingan langsung kepada anak-anak yang terlanjur berhenti sekolah.
Edukasi kepada orang tua juga akan diperkuat agar pendidikan tidak dikorbankan demi pekerjaan usia dini.
“Sebenarnya penanganan kasus ini membutuhkan pendekatan yang lebih personal dan berkelanjutan, agar anak-anak yang terlanjur putus sekolah dapat kembali ke jalur pendidikan,” tambahnya.
Disdikbud juga berencana berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi agar penanganan berjalan sesuai regulasi. (ns/sr)
Tidak ada komentar