Dugaan Jual Beli Kupon Antrean BBM Solar Terendus, DPRD Bontang Minta Usut dan Tangkap Oknum

Admin
31 Agu 2026 19:46
Bontang 0
3 menit membaca

MEMONESIA.COM, Bontang – Dugaan permainan dalam distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Bontang mencuat di tengah panjangnya antrean kendaraan, khususnya untuk mendapatkan solar. DPRD Bontang menerima laporan mengenai dugaan jual beli nomor antrean hingga praktik calo BBM.

Ketua Komisi C DPRD Bontang, Alfin Rausan Fikry, meminta Pertamina dan pengelola SPBU tidak membiarkan dugaan tersebut. Ia mendorong adanya pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik tersebut.

Laporan mengenai dugaan jual beli nomor antrean, kata Alfin, datang berulang kali dari masyarakat. Sejumlah warga bahkan menyampaikannya melalui berbagai platform media sosial.

“Saya sudah sering sekali dapat laporan teman-teman. Mereka DM saya melalui Instagram, Facebook, TikTok dan lain-lain. Pak tolong, ini kupon solar ada yang jual, jadi truk juga tidak semua dapat,” ujarnya, Senin (31/8/2026).

Menurut Alfin, nomor atau kupon antrean yang semestinya menjadi bagian dari mekanisme pelayanan BBM kepada masyarakat justru diduga diperjualbelikan oleh oknum tertentu.

Ia mengaku belum mengetahui secara pasti pihak yang berada di balik praktik tersebut. Dugaan tersebut, menurutnya, perlu ditelusuri untuk memastikan apakah melibatkan oknum internal SPBU atau pihak luar yang bertindak sebagai calo.

“Ada yang melaporkan penjualan kupon. Kalau tadi bilang Pak Arif ada publik yang tidak mendapatkan nomor antrean, nomor antreannya dijual. Entah siapa penjualnya, apakah pegawai SPBU atau ada yang menyampaikan mungkin calo-calo yang sengaja ikut antre lalu dijual,” tambahnya.

Nilai jual nomor antrean tersebut juga disebut bervariasi berdasarkan jumlah BBM yang menjadi jatah. Alfin menyebut jatah 40 liter dilaporkan dapat dijual antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

Sementara untuk jatah 80 liter, harga yang dilaporkan berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Namun, informasi tersebut masih berupa laporan masyarakat yang menurut Alfin perlu dibuktikan melalui penelusuran lebih lanjut.

“Ini bukan satu dua orang yang sudah bicara sama saya. Tolong diusut tuntas, karena saya kira hal-hal seperti ini bisa menjadi perhatian, baik Pertalite maupun solar,” tegasnya.

Selain dugaan permainan antrean, Alfin menilai persoalan distribusi BBM ke Bontang juga perlu dibenahi. Salah satu yang didorong ialah mempercepat masuknya pasokan BBM agar penyaluran di SPBU tidak terlambat.

Ia mengusulkan agar proses distribusi dapat dilakukan lebih awal, terutama pada shift pertama. Dengan pasokan yang lebih cepat tersedia, antrean kendaraan diharapkan tidak menumpuk terlalu lama.

“Seandainya shift satu kita cepat nyedot Bontang, ya juga enggak ada teman-teman itu yang ngantri mungkin. Jalan terus, semua publik dapat. Logika sederhananya begitu,” ujarnya.

Menurut Alfin, persoalan antrean tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan yang membutuhkan BBM. Antrean panjang juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah titik.

Ia mencontohkan kondisi di kawasan Kilometer 3 Bontang. Antrean kendaraan pengangkut solar disebut dapat memanjang hingga menutup akses menuju sekolah.

“Seperti di Kilo Tiga, sampai sekolahan itu kadang ditutup oleh antrean. Ini ke sekolah itu ditutup,” jelasnya.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan pelajar dan pengguna jalan lainnya. Alfin menyebut sejumlah kecelakaan pernah terjadi di tengah persoalan kepadatan kendaraan tersebut.

“Sudah berapa kali kecelakaan dan segala macam, patah kaki, patah tangan. Kok bisa pendidikan itu digeser dengan hal-hal seperti itu,” tegasnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x