Ilustrasi.BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mulai memprioritaskan perbaikan sanitasi di sekolah negeri. Fokus utamanya bukan pada fasilitas tambahan, melainkan toilet atau WC yang selama ini masih banyak ditemukan dalam kondisi belum layak.
Langkah itu terlihat dari alokasi anggaran rehabilitasi yang tercatat dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP). Dari sembilan SMP negeri di Bontang, sebagian besar masuk dalam daftar penerima program perbaikan tahun ini.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang, Nuryadi, mengatakan perbaikan sarana dasar memang sedang dipusatkan pada fasilitas yang paling berkaitan langsung dengan kesehatan dan kenyamanan siswa.
“Dari sembilan SMP di Bontang, sebagian besar memang telah masuk dalam daftar penerima program perbaikan toilet atau WC tahun ini,” ungkapnya, Kamis (16/4/2026).
Menurut dia, WC ditempatkan sebagai prioritas karena kondisi sanitasi di sejumlah sekolah masih belum memenuhi standar. Persoalannya bukan hanya soal bangunan yang menua, tetapi juga menyangkut kebersihan dan ketersediaan air.
“Fokusnya pada WC karena selama ini masih banyak ditemukan fasilitas sanitasi yang belum memenuhi standar,” ujarnya.
Nuryadi menyebut, masalah yang ditemukan di lapangan cukup beragam. Mulai dari toilet yang kebersihannya kurang terjaga, pasokan air yang terbatas, sampai bangunan yang sudah tidak layak dipakai siswa setiap hari.
Di titik itu, perbaikan sanitasi menjadi lebih krusial dibanding sekadar pembenahan tampilan fisik sekolah. Sebab, fasilitas dasar seperti WC justru paling dekat dengan kebutuhan harian siswa, tetapi sering luput sampai kondisinya benar-benar memburuk.
Meski begitu, pelaksanaan rehabilitasi tidak dilakukan dengan pola yang sama di semua sekolah. Setiap unit pendidikan mendapat penanganan sesuai kondisi masing-masing.
“Beberapa sekolah ada yang menerima perbaikan WC-nya, sementara lainnya hanya menyasar bagian tertentu dari bangunan,” tambahnya.
Artinya, tidak semua sekolah langsung mendapat paket perbaikan penuh. Disdikbud mengaku menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk setelah ada pergeseran anggaran yang masih diinput ke dalam SIRUP.
Selain sanitasi, beberapa sekolah juga mendapat peningkatan fasilitas penunjang. Bentuknya antara lain pemasangan plafon berbahan Aluminium Composite Panel (ACP) dan penataan halaman melalui paving block.
Namun, dibanding fasilitas pendukung itu, toilet tetap menjadi titik yang paling disorot tahun ini. Alasannya sederhana, karena sekolah yang bicara soal kenyamanan belajar tak bisa terus mengabaikan sanitasi dasar yang justru paling sering dipakai siswa.
Nuryadi mengatakan pendekatan tersebut dipilih agar penggunaan anggaran tidak habis untuk pekerjaan yang sifatnya merata, tetapi kurang menyentuh masalah utama di tiap sekolah.
“Setiap pekerjaan disesuaikan dengan kondisi riil, apalagi ini masih disesuaikan lagi dan diinput di SIRUP karena ada pergeseran anggaran,” jelasnya. (ns/sr)
Tidak ada komentar