Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Abdu Safa Muha. Foto (nur/memonesia)BONTANG – Maraknya pembahasan proyek film bertema Dayak ikut mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang melirik potensi sineas lokal. Dinas menilai geliat film berbasis budaya itu membuka peluang bagi Bontang untuk ikut masuk lewat karya yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga membawa identitas daerah.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan pihaknya mulai menyiapkan wadah khusus di bawah bidang kebudayaan untuk menampung komunitas kreatif, termasuk pelaku film lokal.
“Tren film kolosal ini menarik. Kita lihat ada peluang besar untuk dikembangkan dalam konteks kebudayaan daerah,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurut dia, potensi perfilman di Bontang sebenarnya sudah ada. Hanya saja, para pelaku kreatif selama ini masih bergerak sendiri-sendiri, sehingga pengembangannya belum terarah.
Di titik itu, persoalannya bukan semata soal ada atau tidaknya talenta. Yang belum terbentuk justru ruang bersama untuk mempertemukan komunitas, membangun pembinaan, dan mendorong karya agar tidak berhenti di level wacana.
Abdu mengatakan wadah yang sedang disiapkan itu nantinya tidak hanya untuk komunitas film. Disdikbud juga ingin mempertemukan kelompok teater dan seni pertunjukan lain agar kolaborasi bisa berjalan lebih kuat.
“Kami ingin semua komunitas punya ruang bersama agar kolaborasinya bisa lebih kuat,” ungkapnya.
Disdikbud juga berencana menjalin sinergi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Bontang. Langkah ini disiapkan untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong sektor ekonomi kreatif.
Menurut Abdu, jika wadahnya sudah jelas, pembinaan kepada generasi muda yang tertarik ke dunia film akan lebih mudah dilakukan. Selama ini, peluang itu dinilai belum terbuka maksimal karena belum ada jalur pengembangan yang benar-benar terstruktur.
“Kalau wadahnya sudah ada, pembinaannya juga lebih terarah, maka dunia perfilman memiliki akses dan jalur pengembangan yang lebih terbuka untuk anak-anak,” tambahnya.
Ia menegaskan, arah yang ingin dibangun bukan sekadar mengejar ramainya film berbasis budaya di media sosial. Disdikbud ingin karya yang lahir dari Bontang tetap punya pijakan budaya dan tidak lepas dari identitas lokal.
“Kita ingin karya yang lahir bukan sekadar hiburan, tapi juga punya nilai budaya dan bisa memperkenalkan Kota Bontang,” tutupnya. (ns/sr)
Tidak ada komentar