Jembatan akses masuk SMPN 5 Bontang. (Dok. Memonesia)MEMONESIA.COM, Bontang – Jembatan yang menjadi akses utama menuju SMP Negeri 5 Bontang telah berusia sekitar 21 tahun. Selama lebih dari dua dekade, infrastruktur tersebut disebut belum pernah mendapat perbaikan besar secara menyeluruh, sementara kondisinya kini mulai mengkhawatirkan.
Kerusakan terlihat pada sejumlah bagian jembatan, termasuk permukaan yang mengalami penurunan. Kondisi fisik tersebut menjadi persoalan serius karena jembatan setiap hari dilintasi siswa, guru, orang tua, serta masyarakat menggunakan sepeda motor maupun mobil.
Risiko semakin besar ketika hujan deras turun. Posisi jembatan yang lebih rendah dibandingkan badan jalan membuat air mudah menggenangi permukaan hingga sempat mengganggu akses keluar-masuk sekolah.
Bukan hanya permukaan jembatan yang bermasalah. Pagar pengaman di sisi jembatan juga mulai keropos dan dinilai tidak lagi layak memberikan perlindungan maksimal kepada pengguna.
Dengan usia infrastruktur yang telah mencapai 21 tahun dan kondisi yang terus menurun, keselamatan pengguna menjadi perhatian utama. Apalagi, belum ada perbaikan menyeluruh yang dapat memastikan struktur jembatan tetap aman digunakan dalam jangka panjang.
Kepala SMP Negeri 5 Bontang Muhiddin mengatakan kondisi jembatan sudah seharusnya mendapat perhatian serius. Menurutnya, akses tersebut merupakan jalur vital bagi aktivitas sekolah dan digunakan setiap hari.
“Sejak dijadikan akses masuk, jembatan ini belum pernah mendapat perbaikan besar, karena status lahannya masih pinjam pakai perusahaan, sehingga ruang untuk melakukan pembangunan menjadi terbatas,” ujarnya.
Muhiddin mengkhawatirkan kondisi jembatan apabila terus dibiarkan tanpa penanganan. Terlebih, kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian permukaan, tetapi juga menyentuh elemen pengaman yang berhubungan langsung dengan keselamatan pengguna.
“Ketika hujan deras, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Apalagi bagian pengamannya sudah tidak layak. Padahal jembatan ini menjadi jalur utama keluar-masuk sekolah,” keluhnya.
Persoalan perbaikan selama ini turut terkendala status lahan. Jembatan berdiri di atas lahan milik PT Kaltim Industrial Estate (KIE) dan PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) yang masih berstatus pinjam pakai.
Artinya, pembenahan secara permanen membutuhkan kepastian mengenai dasar penguasaan lahan. Pihak sekolah berharap persoalan tersebut segera diselesaikan agar pemerintah memiliki ruang yang lebih kuat untuk melakukan perbaikan jembatan.
Salah satu opsi yang diharapkan ialah perusahaan menghibahkan sebagian lahan yang digunakan sebagai akses jembatan kepada pemerintah.
“Kami harap bisa segera diperbaiki jembatannya, sehingga siswa dan guru bisa melintas dengan rasa aman,” harap Muhiddin.
Kondisi jembatan tersebut kemudian ditinjau langsung Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan perwakilan perusahaan, Senin (7/9/2026).
Agus Haris menyatakan pemerintah akan menindaklanjuti persoalan status lahan dengan mengurus permohonan hibah kepada perusahaan. Langkah tersebut diharapkan membuka jalan bagi penanganan jembatan yang selama ini terkendala administrasi.
“Nanti saya akan antar untuk permohonan hibah ini,” tandasnya.
Tidak ada komentar