Capaian Stunting 14,2 Persen, Kukar Perkuat Intervensi Gizi

Admin
22 Sep 2026 21:10
3 menit membaca

MEMONESIA.COM, Tenggarong — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat intervensi penanganan stunting setelah capaian per September 2026 berada di kisaran 14,2 persen. Pemerintah daerah menargetkan angka tersebut kembali ditekan hingga sekitar 12,2 persen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Ismi Mufidah mengatakan capaian tersebut tetap perlu diikuti intervensi dan pemantauan untuk mencegah munculnya kasus baru sekaligus menangani sasaran yang masih membutuhkan dukungan.

“Ini memang masih perlu kita kejar dan perlu dimaintenance. Angka kematian balita, penurunan stunting, dan pencapaian indikator SPM masih menjadi program prioritas,” ujar Ismi saat ditemui di Tenggarong, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, penurunan angka stunting dalam beberapa tahun terakhir tidak menjadi alasan untuk menghentikan program penanganan. Intervensi tetap dilakukan meskipun capaian yang diperoleh telah berada di bawah target nasional.

“Walaupun angka yang kita capai sekarang masih di bawah target nasional, program kesehatan tidak bisa kita hentikan. Kalau kita lengah, nanti kasus bisa muncul kembali,” jelasnya.

Salah satu intervensi yang masih berjalan dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) lokal oleh puskesmas. Sasaran program mencakup ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), serta bayi dan balita yang membutuhkan dukungan gizi.

Pada ibu hamil, kondisi KEK antara lain dipantau melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pemantauan tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan penanganan sesuai kondisi masing-masing sasaran.

Sementara pada balita stunting, pemberian PMT disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kebutuhan anak. Dalam kondisi tertentu, intervensi dapat dilakukan secara rutin hingga enam bulan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Dinkes Kukar juga mengupayakan bahan PMT berasal dari pangan lokal yang tersedia di daerah. Penyusunan menu dilakukan tenaga gizi dengan memperhatikan kebutuhan makanan seimbang, termasuk karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya.

“Bahan makanan yang digunakan diupayakan berasal dari bahan pangan lokal yang tersedia, termasuk kacang-kacangan dan sumber protein lainnya,” kata Ismi.

Pelaksanaan intervensi didukung melalui sejumlah sumber pembiayaan, termasuk puskesmas serta Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang bersumber dari APBN maupun APBD.

Selain intervensi gizi, Dinkes Kukar memberikan penanganan lanjutan bagi kasus yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satunya dengan menghadirkan dokter spesialis anak ke wilayah yang memiliki kasus dan membutuhkan penanganan tersebut.

“Untuk kasus stunting yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan tidak dapat bertemu langsung dengan dokter spesialis anak, kita juga memiliki inovasi dengan mendatangkan dokter spesialis ke lapangan,” ujarnya.

Pemantauan perkembangan kasus juga dilakukan melalui dashboard yang memungkinkan pembaruan data berdasarkan hasil pengukuran dan intervensi di lapangan.

Ismi mengatakan capaian sekitar 14,2 persen per September menjadi dasar bagi Dinkes Kukar untuk terus melakukan intervensi guna mengejar target sekitar 12,2 persen.

“Intinya, upaya penurunan stunting, penanganan KEK pada ibu hamil, serta program kesehatan lainnya akan terus dilakukan dan dipantau agar capaian yang sudah diperoleh dapat dipertahankan sekaligus ditingkatkan,” pungkasnya. (Adv/Ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x