Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Muhammad Saidar. 
MEMONESIA, Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) membidik peningkatan kualitas beras lokal melalui pembenahan fasilitas pascapanen di empat lumbung pangan. Perbaikan menyasar sarana penggilingan dan pengeringan gabah, disertai rencana pengadaan mesin penyortir warna beras.
Langkah ini dilakukan karena sebagian besar beras produksi petani Kukar masih berada dalam kategori mutu medium. Pemerintah ingin hasil panen lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga memiliki kualitas lebih baik dan berpeluang masuk pasar beras premium.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengatakan penguatan fasilitas telah dilakukan di empat lumbung pangan. Lokasinya berada di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong; Desa Segihan dan Giri Agung, Kecamatan Sebulu; serta Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana.
“Kalau yang sudah kami lakukan penguatan, itu ada empat lumbung pangan,” ucap Ananias.
Peningkatan sarana dan prasarana difokuskan pada unit penggilingan padi atau rice milling unit (RMU) serta mesin pengering gabah. Kedua fasilitas tersebut berperan penting dalam menjaga kualitas hasil panen sebelum diproses menjadi beras.
“Di empat lokasi ini, kami coba tingkatkan fasilitasnya, mulai dari unit penggilingan padi atau rice milling unit (RMU), kemudian mesin pengeringnya juga,” jelasnya.
Ananias menilai proses pengeringan harus dilakukan secara tepat dan mengikuti standar operasional prosedur (SOP). Sebab, kualitas gabah sebelum digiling turut menentukan mutu beras yang dihasilkan.
“Pengeringan padi itu harus betul-betul berkualitas dan sesuai dengan SOP. Dengan begitu, hasil beras yang dihasilkan nanti kualitasnya bisa premium,” katanya.
Khusus di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Disketapang Kukar berencana menggunakan mesin pengering vertikal atau vertical dryer berkapasitas 10 ton. Fasilitas ini diharapkan mampu mengoptimalkan proses pengeringan sebelum gabah memasuki tahap penggilingan.
“Khusus di Anggana, rencananya kami mau menggunakan vertical dryer berkapasitas 10 ton. Harapannya, proses pengeringan bisa lebih optimal sehingga kualitas beras yang dihasilkan juga semakin baik,” ungkapnya.
Selain memperbaiki proses penggilingan dan pengeringan, Disketapang juga merencanakan bantuan mesin penyortir warna beras atau rice color sorter untuk empat lumbung pangan tersebut.
Mesin ini berfungsi memilah butiran beras berdasarkan warna agar hasilnya lebih seragam. Beras yang tampak keabu-abuan atau kekuningan dapat dipisahkan sehingga kualitas visual produk meningkat.
“Kami juga berencana membantu mesin sortir warna beras di empat lokasi ini. Jadi, beras yang warnanya agak keabu-abuan atau kekuningan bisa tereliminasi,” kata Ananias.
Melalui penggunaan teknologi tersebut, pemerintah berharap beras yang dihasilkan memiliki mutu lebih konsisten dan dapat dikembangkan menjadi produk premium.
“Jadi, betul-betul beras yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Kami ingin hasil produksi dari lumbung-lumbung pangan ini bisa dikembangkan menjadi beras premium,” ujarnya.
Peningkatan kualitas juga akan diikuti pengembangan kemasan dan merek. Disketapang Kukar menjajaki pembuatan identitas produk untuk masing-masing lumbung pangan agar beras lokal memiliki merek tersendiri saat dipasarkan.
Jika rencana itu terealisasi, empat lumbung pangan tersebut akan menghasilkan empat merek beras lokal.
“Dari empat lokasi ini, nantinya kami berharap bisa ada empat merek beras. Saat ini, pengembangan di empat lokasi tersebut sedang kami jajaki, termasuk untuk pengemasan dan mereknya,” jelasnya.
Pengembangan fasilitas pascapanen juga berpeluang diperluas ke wilayah lain. Disketapang Kukar tengah mempertimbangkan Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, serta kawasan Sungai Pimpin di Kecamatan Loa Janan sebagai sasaran pengembangan tahap kedua.
“Selain empat lokasi ini, ada juga wilayah lain yang potensial. Mungkin nanti kami coba kembangkan di Sungai Payang, kemudian Sungai Pimpin di Loa Janan. Itu bisa menjadi pertimbangan untuk tahap kedua,” kata Ananias.
Menurutnya, peningkatan fasilitas pengolahan diperlukan agar potensi produksi padi Kukar dapat diimbangi dengan kualitas hasil beras yang lebih baik. Dengan begitu, hasil panen petani tidak hanya memiliki nilai jual lebih tinggi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Ananias berharap penguatan lumbung pangan dapat mengurangi kebutuhan mendatangkan beras dari luar daerah. Terlebih, Kukar memiliki potensi produksi padi yang perlu didukung fasilitas pengolahan memadai.
“Harapan kami, dengan lumbung-lumbung pangan yang sudah siap ini, berasnya tidak perlu jauh-jauh didatangkan dari luar. Kita ini kan penghasil beras,” tegasnya. (Adv/Ns)
Tidak ada komentar