BERITA

Sindikat Curanmor Jual Motor Curian Cuma Rp750 Ribu di Pedalaman

Tidak semua pelaku tersebut diproses hukum. Dua diantaranya mendapat pengampunan atau restoratif justice dari pihak korban. (Dok. Polda Kaltim)

BALIKPAPAN – Para petani di pedalaman Kaltim menjadil target penjualan kendaraan curian. Karena di sana disebut lokasi paling aman. Hal tersebut diketahui usai Polda Kaltim meringkus sindikat pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor), beberapa waktu lalu.

Kasus ini terungkap saat Tim Jatanras dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kaltim menggelar penyelidikan sejak 27 Januari hingga 18 Februari 2021. Dari penyelidikan selama 22 hari ini, Tim Jatanras menangkap lima pria sebagai pelaku curanmor.

Namun, tidak semua para pelaku tersebut diproses hukum. Dua diantaranya mendapat pengampunan atau restoratif justice dari pihak korban. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Ade Yaya Suryana, bersama Kepala Subdit Jatanras Polda Kaltim, AKBP Agus Puryadi.

“Pihak korban melakukan upaya perdamaian. Jadi korban tidak keberatan dengan kedua tersangka ini, sehingga kasus ini tidak masuk ke pengadilan,” kata Ade kepada awak media, Jumat (26/2).

Selain melakukan penangkapan, Tim Jatanras juga sukses mengamankan kendaraan hasil curian dari tangan para pelaku ini. Total, ada delapan unit kendaraan yang berhasil diamankan. Tujuh diantaranya berupa sepeda motor. “Ada juga satu unit mobil kami amankan,” sebut Ade.

Di Balikpapan, beber Ade, kelompok ini beraksi di tiga. Yakni di Kelurahan Telaga Sari, Balikpapan Utara; Kilometer 3,5, Balikpapan Utara; dan Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara. Namun, para pencuri juga beraksi hingga ke luar kota. “Ya, ada juga di kota lain, seperti Kutai Barat dan Bontang,” bebernya.

Adapun modus operandinya, perwira melati tiga itu memaparkan, para pelaku ini mengincar kendaraan yang terdapat kunci kontak menempel. Selain itu, pelaku juga tak segan membawa kabur kendaraan meski tak ada kunci kontaknya.

“Jadi, mereka ini juga membawa dengan mendorong dulu kendaraannya ke lokasi aman. Kemudian kendaraannya diutak-atik sampai menyala,” papar Ade.

Sementara itu, AKBP Agus Puryadi menambahkan, para pelaku ini menjual kendaraan curiannya tanpa surat-surat alias secara bodong. Harganya pun sangat murah-meriah, mulai dari Rp750 ribu hingga Rp1 juta. Biasanya, sebut Agus, pelaku menjual hasil curiannya ke para petani sawit di pedalaman.

“Mungkin, karena di sana jauh, jadi dirasa aman untuk menjual barang curian. Karenakan buat dipakai di kebun saja,” tambah Agus. (Adit)

.
Comments

POPULER

To Top