Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris saat sidak di Dapur SPPG Bontang Selatan 5.MEMONESIA.COM, Bontang – Pemerintah Kota Bontang turun langsung memeriksa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5 setelah puluhan siswa SMP Vidatra mengalami gangguan kesehatan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Inspeksi mendadak (sidak) dilakukan Selasa (11/8/2026), sehari setelah siswa mengeluhkan mual, muntah hingga sesak napas. Sebagian siswa bahkan harus mendapat perawatan di RS LNG Badak.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, ikut meninjau langsung proses penyediaan makanan di dapur SPPG. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat tahapan pengelolaan MBG, mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses pengolahan.
Dari sidak tersebut, Agus menyoroti kondisi ruang penerimaan bahan baku yang dinilai belum ideal. Ruangan tersebut dianggap terlalu sempit untuk menampung kebutuhan makanan bagi sekitar 2.000 penerima manfaat setiap hari.
“Kalau melayani 2.000 dengan ruang yang kecil, saya anggap masih belum ideal,” ujarnya.
Pemkot juga menemukan penggunaan papan berbahan plywood sebagai alas penyimpanan bahan makanan. Agus menilai material tersebut berpotensi menyimpan debu dan kotoran karena memiliki pori-pori yang sulit dibersihkan secara maksimal.
Ia meminta alas tersebut ditutup plastik agar lebih mudah dibersihkan dan tidak langsung bersentuhan dengan bahan makanan.
“Plywood itu belum terlalu bersih. Saya minta ditutup plastik. Jadi dia bersih terus. Walaupun kena debu, sekali dikasih kain basah dan kain kering, insyaallah bersih,” katanya.
Selain kondisi dapur, Agus memberi perhatian khusus terhadap pemeriksaan bahan baku ketika pertama kali tiba. Menurutnya, bahan makanan harus diperiksa satu per satu sebelum diterima dan masuk ke proses pengolahan.
“Dari ratusan itu jeruk enggak boleh langsung kita angkut semua. Harus dipilih satu-satu. Termasuk ayam juga,” tegasnya.
Meski menemukan sejumlah catatan, Agus menyebut proses pengolahan makanan di dalam dapur, mulai dari memasak hingga pengeringan, secara umum telah sesuai standar.
“Semua prosesnya dari tempat masak, pengeringan, sudah sesuai standar. Kehati-hatian kepala dapur pada saat menerima bahan awal itu yang menjadi catatan kami setelah melihat langsung lokasi,” jelasnya.
Agus juga meminta kepala SPPG tidak hanya mengandalkan kamera pengawas (CCTV) untuk memantau operasional dapur. Pengawasan, menurutnya, harus dilakukan secara langsung sejak bahan makanan diterima hingga makanan didistribusikan.
“Kepala itu tidak boleh memantau dari CCTV saja, tapi harus sudah melihat bahan masuk sampai proses pendistribusian,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Bontang Selatan 5 menyatakan proses penyediaan MBG selama ini telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP).
Namun, ia mengakui masih terdapat kemungkinan kelalaian dalam sejumlah tahapan dan menyampaikan permintaan maaf kepada siswa serta pihak sekolah yang terdampak.
“Mungkin ada lalai dalam beberapa tahap, maka kami meminta maaf kepada para siswa dan sekolah yang terdampak,” tandasnya. (*)
Tidak ada komentar