Lagu Lama! Kilang Batal Dibangun karena Lahan, Ini Kata Bakhtiar Wakkang

Admin
19 Jan 2021 15:42
2 menit membaca

Anggota Komisi II DPRD Bontang Bakhtiar Wakkang. (Fajri/memonesia.com)

BONTANG – Kabar batalnya pembangunan kilang di Bontang membuat anggota Komisi II DPRD Bakhtiar Wakkang angkat suara. Ia menilai pemerintah setempat belum siap.

“Itu bukan persoalan pusat. Pemerintah Bontang yang belum siap,” tegasnya, Selasa (19/01).

Menurutnya, Pemkot Bontang harus segera berbenah, dan melakukan evaluasi. Ini merupakan suatu kegagalan, akibatnya kementerian mengeluarkan rekomendasi kepada Pertamina untuk membatalkan proyek kilang tersebut.

“Ini cambuk bagi pemerintah. Harus lakukan evaluasi. Investasi yang harusnya memperkejakan orang banyak, enggak jadi akhirnya,” tambahnya.

Kata dia, DPRD sendiri sudah memfasilitasi, dengan merubah Peraturan Daerah (Perda) RTRW sebagai pedoman hukum. Lebih dari seribu hektar kawasan di Bontang ditetapkan sebagai kawasan industri pada Perda RTRW itu.

“Kami tidak punya kewenangan. Hanya sebatas fasilitator. Ekesekusi dilapangan kan OPD terkait,” jelasnya.

Lanjut BW, selama ini laporan yang masuk selalu aman. Nyatanya hasil dilapangan tidak berbanding lurus. “Kami akan rasionalisasi anggaran, kalau tidak berbanding lurus dengan output dilapangan,” tambahnya.

Perintah Kota Bontang menyebut telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilang sejak Februari 2020 lalu. Akan tetapi, pandemi menjadi salah satu alasan hingga tim tak intens melakukan langkah strategis.

“Kita beralih fokus untuk tangani virus corona sejak awal tahun lalu, jadi memang kurang maksimal di wilayah itu,” sebut Sekkot Bontang Aji Erlynawati. Kendati demikian, ia masih optimis kilang dapat tetap dibangun walau Pertamina belum memberi kejelasan.

Diketahui, PT Pertamina (Persero) batal membangun proyek kilang bahan bakar minyak (BBM) baru di Bontang, Kalimantan Timur.

Padahal, proyek ini sudah dimasukkan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 20 November 2020 lalu.

Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Soerjaningsih mengatakan, Pertamina sampai saat ini masih mengkaji proyek kilang ini.

Pasalnya, masih ada beberapa masalah yang belum ditemukan solusinya. Pihaknya juga mempertimbangkan pasokan BBM yang telah ada maupun akan meningkat dari proyek kilang lainnya.

“Rencana pembangunan GRR (Grass Root Refinery) Kilang Botang sejak rencana kerja sama Pertamina dengan calon partner berakhir di 2019, ini masih dalam pengkajian,” ungkapnya dalam konferensi pers, Senin (18/01/2021) dilansir dari cnbcindonesia.com.

Selain itu, lanjutnya, adanya permasalahan mengenai keterbatasan lahan yang dimiliki pemerintah di Bontang saat ini menurutnya tidak mencukupi untuk pembangunan kilang BBM baru.

Mega proyek kilang Bontang masuk jadi agenda besar nasional sejak 2014. Perpres yang berkaitan dengan program strategis nasional pun telah direvisi sebanyak dua kali. Investasi pembangunan kilang Bontang ditaksir menyentuh angka Rp 197 triliun. (Fajri Sunaryo)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

cuaca 898100146

cuaca 898100147

cuaca 898100148

cuaca 898100149

cuaca 898100150

cuaca 898100151

cuaca 898100152

cuaca 898100153

cuaca 898100154

cuaca 898100155

cuaca 898100156

cuaca 898100157

cuaca 898100158

cuaca 898100159

cuaca 898100160

cuaca 898100161

cuaca 898100162

cuaca 898100163

cuaca 898100164

cuaca 898100165

cuaca 898100166

cuaca 898100167

cuaca 898100168

cuaca 898100169

cuaca 898100170

cuaca 898100171

cuaca 898100172

cuaca 898100173

cuaca 898100174

cuaca 898100175

cuaca 898100176

cuaca 898100177

cuaca 898100178

cuaca 898100179

cuaca 898100180

cuaca 898100181

cuaca 898100182

cuaca 898100183

cuaca 898100184

cuaca 898100185

cuaca 898100186

cuaca 898100187

cuaca 898100188

cuaca 898100189

cuaca 898100190

cuaca 898100191

cuaca 898100192

cuaca 898100193

cuaca 898100194

cuaca 898100195

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

article 710000171

article 710000172

article 710000173

article 710000174

article 710000175

article 710000176

article 710000177

article 710000178

article 710000179

article 710000180

article 710000181

article 710000182

article 710000183

article 710000184

article 710000185

article 710000186

article 710000187

article 710000188

article 710000189

article 710000190

article 710000191

article 710000192

article 710000193

article 710000194

article 710000195

article 710000196

article 710000197

article 710000198

article 710000199

article 710000200

article 710000201

article 710000202

article 710000203

article 710000204

article 710000205

article 710000206

article 710000207

article 710000208

article 710000209

article 710000210

article 710000211

article 710000212

article 710000213

article 710000214

article 710000215

article 710000216

article 710000217

article 710000218

article 710000219

article 710000220

artikel 338000001

artikel 338000002

artikel 338000003

artikel 338000004

artikel 338000005

artikel 338000006

artikel 338000007

artikel 338000008

artikel 338000009

artikel 338000010

artikel 338000011

artikel 338000012

artikel 338000013

artikel 338000014

artikel 338000015

artikel 338000016

artikel 338000017

artikel 338000018

artikel 338000019

artikel 338000020

artikel 338000021

artikel 338000022

artikel 338000023

artikel 338000024

artikel 338000025

artikel 338000026

artikel 338000027

artikel 338000028

artikel 338000029

artikel 338000030

psda 438000096

psda 438000097

psda 438000098

psda 438000099

psda 438000100

psda 438000101

psda 438000102

psda 438000103

psda 438000104

psda 438000105

psda 438000106

psda 438000107

psda 438000108

psda 438000109

psda 438000110

news-1701