BERITA

CERPEN: Secangkir Kopi Tak Bergula

Reza (Dok. Pribadi)

Di peraduan rumah kayu yang disulam menjadi Caffe. Kopi yang dibuat oleh pelayan tidak terasa nikmatnya. Mungkin kurang gula. Atau, ada duka di dalamnya. Entahlah, rasanya kali ini sangat berbeda. Bisa juga ia taburkan air mata. Ah entahlah. Biar saja yang penting senja, kopi dan bayangan kemenangan.

Sudah beberapa kali aku mampir di pangkuan kursi kayu bercat hijau ini. Biasanya aku duduk berdua bersama teman akrab yang baru aku kenal awal tahun lalu. Mungkin keakraban itu muncul karena latar belakang pekerjaan yang sama sebelumnya.

Pertengahan tahun lalu, pemutusan kontrak lantaran pandemi yang tengah melilit bumi terdampak padaku. “Tak apa, sudah jalannya,” batinku.

Baru mencium udara kebebasan sebulan lamanya, syukurnya ada perusahaan yang menawari pekerjaan baru. Kesempatan itu tentu tak ku lewatkan. Namun, aku yang harus berusaha keras.

Merubah pola yang awalnya melawan, kali ini harus berkawan.
Ditambah, perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan itu memberi penawaran yang menggiurkan. Tugasnya pun tak seberapa berat, jika pikirkan.

Tapi, saat berjalannya pekerjaan. Otakku harus dibuat berputar berkali-kali. Yang awalnya aku hanya menulis dan mengerjakan tugas-tugas. Kini aku harus mencari ide kreatif untuk menaikkan sebuah nama agar digandrungi banyak orang. Ya. Semacam menghasut.

Keuntungan pun berpihak, nama itu sudah dikenal banyak orang. Tinggal bagaimana caranya untuk menunjang kembali agar bertambah banyak memilih. Hanya saja, ada beberapa orang yang merusak. Bisa dikata parasit. Tapi, setelah dipikir. Semua akan menjadi benalu dengan alasan utama untuk mencari sesuap nasi agar anak istri tidak pergi. Apalagi di masa pandemi.

“Ah sudahlah, jangan ceritain orang. Capek sendiri,” gerutuku dalam lamunan.

Setelah beberapa bulan aku menjalani. Aku mulai merasuk. Tuntutan loyalitas sudah pasti. Tapi aku berusaha bekerja tak menggunakan hati. Hanya bekerja sesuai dengan instruksi. Sedikit aku memahami, apa pun yang dilakukan jika menggunakan hati. Kekecewaan yang akan menghampiri.

Hal ini ku pelajari ketika aku berjuang mendapatkan pekerjaan yang ku inginkan. Sayang, aku tetap merasakan hal yang sama. Aku tak menyalahkan. Aku tahu, Tuhan telah menyiapkan jalan untuk hambanya. Tinggal usahanya saja yang bagaimana.

Aku pun ingat perkataan seorang senior ketika aku baru kerja di kantor lama. “Kita akan memiliki kisah masing-masing jangan mengikuti kisahku,” ucapnya waktu itu dengan gaya orang tua sambil mengelus jenggotnya bulu jenggotnya yang tidak terlalu panjang. Padahal, umur kami pun tak terpaut jauh.

Yang membuatku tak lupa saat pemutusan kontrak kerja yaitu, seminggu setelah akunya wanita yang telah ku lamar untuk mendampingi sisa hidup, dia memutuskan untuk menyudahi, dengan alasan tak ingin jauh meninggalkan orangtuanya.

Tanpa pikir panjang, aku pun menerima alasan itu. Bukan permasalahan berjuang. Ya aku renungkan ketika cinta itu dipaksa maka imbasnya akan lebih menyakitkan. Dan aku memilih untuk melepaskan. Karena cinta akan datang pada yang membutuhkan. Sama halnya kopi, akan nikmat ketika peminum menemukan caranya sendiri. Dan juga, yang terpenting adalah masaku untuk membahagiakan orangtua lebih banyak.

*

Pekerjaanku di tempat yang baru pun telah usai. Tepatnya empat hari sebelum pilkada 2020 berlangsung. Iya, aku bekerja untuk salah satu calon yang hendak maju menjadi wakil rakyatnya. Dia siap mengemban amanah yang diberikan. Sayang, dia tak menang. Padahal, sebelumnya dia telah membuktikan. Selogan “lanjutkan” pun terhenti di hari yang sama saat masyarakat memberikan hak pilihnya.

Saat itu pun semesta seakan memberikan informasi bahwa yang bertahan pun tak akan menang. Semua akan kembali pada pemilik hakikatnya. Tuhan pasti punya jalan. Padahal banyak warga yang memintanya untuk kembali duduk menjadi wali mereka.

Pendapat itu aku dapatkan saat mengerjakan tugas kantor agar warga memberikan testimoni selama kepemimpinan dan harapan kedepannya. Ditambah, pekerjaan harianku mendokumentasikan setiap calon kampanye. Atau, masyarakat tengah mengidolakan pemimpin baru. Entahlah, aku tak paham. Poling diakhir tak begitu jauh. Hanya selisih beberapa persen. Tapi tetap saja, yang banyak akan menjadi pemenang.

“Boy….,” Sapa kawan akrabku dari jauh.

Dia sedikit terlambat. Tugasnya menumpuk usai pemilihan. Maklum, dia masih menjadi buruh tulis. Pun dia datang untuk menemaniku bersantai dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Aku hanya bersyukur senja kali ini tidak jadi ku nikmati sendiri.

“Sok atuh, lanjut nulisnya,” timpalku sekalian menunjukan kursi yang berada didepanku.
“Tau aja,” jawabnya.
“Aku kasian aja kamu sendiri merenung,” tambahnya.

Sementara, aku diam dan tak ingin mengganggunya. Namun, sedikit saran, agar tidak membeli kopi yang aku pesan. Sayang dia telah memesan kopi yang sama sebelum menyapaku.

Beberapa menit kemudian. Kopi dan beberapa makanan datang. Dan aku pun langsung mempersilahkan untuk meminumnya. Dan kembali diam dan menunggu komentar dari kopi yang dipesannya. Yang aku pahami, dia sangat panatik tentang kopi. Sayang, apa yang aku tunggu tak diucapkan. Dia malah bertanya kopi apa yang ku pesan. Karena saat ditanya pelayan, dia hanya bilang samakan saja dengan pesanku dan ditambah makanan ringan.

“Liberika Jember,” jawabku.
“Enak nih, wah rekomendasi juga ini. Rasa buahnya itu keluar dan pahitnya juga ada,” katanya seusai ucapkan kata “ahhhh” setelah minum kopi.

Maklum, ucapan itu sangat wajib dilakukan. Karena minum kopi tanpa kata “ahhhh” setelahnya bagai mencintai tanpa balasan.
Jawabannya membuatku penasaran. Tanpa permisi, aku langsung mengambil cangkirnya dan kuseruput. Benar saja. Setelah ku, kopinya enak dibandingkan kopiku. Tapi, masih dengan jiwa penasaran, aku minum air putih untuk menetralkan mulutku. Setelah itu ku coba lagi kopi yang ada di cangkirku.

“Kok beda ya,” tanyaku.
Dia pun mencoba kopiku.

Setelahnya, dia menjelaskan bahwa rasa kopinya sama. Aku pun tambah heran. Ku coba kopinya dan kopiku sampai berkali-kali. Sampai pada akhirnya dia menahan tanganku.

“Hai.. kopiku habis nanti,” katanya sambil melirikku.
“Kopinya sama, mungkin perasaanmu aja yang beda,” imbunya.
“Enggak mungkin,” jawabku.
“Bisa saja. Perasaanmu kan lagi semrawut karena calon yang kamu dukung enggak menang pilkada-kan ditambah ceritamu dulu yang menyakitkan, uuuuuuuuu,” katanya mengejek.

Aku pun terdiam. Tak lama aku membalas ledekannya dengan tawa terpaksa. Sementara dalam benakku, “apa benar aku kembali kerja menggunakan hati? Ah, sudahlah,” gerutuku dalam hati.
“Mungkin,” jawabku, dan kembali tertawa. Tapi kali ini, tawaku tak palsu. Aku lucu saja dengan candaan dunia yang terkadang kejam. Tak selang lama, kawanku pun ikut tertawa.

Usai itu, dia mengingatkanku bahwa pekerjaan itu perlu menggunakan hati agar nyaman ketika bekerja. “Tapi ingat harus dikontrol. Jangan terlalu panatik. Enggak baik soalnya,” katanya sambil menatapku.

Aku pun menyadari. Ternyata, aku tidak dapat melupakan hati ketika melakukan apapun. Aku juga ingat kata teman sewaktu kuliah. “Manusia hidup dengan paru-paru. Bukan dengan pura-pura”.

Selama pekerjaanku lima bulan lalu, aku berpura-pura bahwa aku bekerja asal bekerja. Bukan bekerja dengan hati. Maka dari itu, aku sering mengeluh. Tapi, ya sudahlah. Sudah berlalu. Kedepannya harus diperbaiki.

Nama Penulis : Reza
TTL : Malang, 7 Agustus 1993
Pendidikan akhir : S1 Pertanian Unmul
Pekerjaan : Pengisi Cerpen di salah satu web sejak 2013 – Pengisi blog sendiri.
Prestasi : Juara 3 lomba cerpen Indonesia, Juara 2 lomba cerpen internasional

.
Comments

POPULER

To Top