CERPEN: Secangkir Kopi Tak Bergula

Admin
5 Jan 2021 10:15
Berita 0
6 menit membaca

Reza (Dok. Pribadi)

Di peraduan rumah kayu yang disulam menjadi Caffe. Kopi yang dibuat oleh pelayan tidak terasa nikmatnya. Mungkin kurang gula. Atau, ada duka di dalamnya. Entahlah, rasanya kali ini sangat berbeda. Bisa juga ia taburkan air mata. Ah entahlah. Biar saja yang penting senja, kopi dan bayangan kemenangan.

Sudah beberapa kali aku mampir di pangkuan kursi kayu bercat hijau ini. Biasanya aku duduk berdua bersama teman akrab yang baru aku kenal awal tahun lalu. Mungkin keakraban itu muncul karena latar belakang pekerjaan yang sama sebelumnya.

Pertengahan tahun lalu, pemutusan kontrak lantaran pandemi yang tengah melilit bumi terdampak padaku. “Tak apa, sudah jalannya,” batinku.

Baru mencium udara kebebasan sebulan lamanya, syukurnya ada perusahaan yang menawari pekerjaan baru. Kesempatan itu tentu tak ku lewatkan. Namun, aku yang harus berusaha keras.

Merubah pola yang awalnya melawan, kali ini harus berkawan.
Ditambah, perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan itu memberi penawaran yang menggiurkan. Tugasnya pun tak seberapa berat, jika pikirkan.

Tapi, saat berjalannya pekerjaan. Otakku harus dibuat berputar berkali-kali. Yang awalnya aku hanya menulis dan mengerjakan tugas-tugas. Kini aku harus mencari ide kreatif untuk menaikkan sebuah nama agar digandrungi banyak orang. Ya. Semacam menghasut.

Keuntungan pun berpihak, nama itu sudah dikenal banyak orang. Tinggal bagaimana caranya untuk menunjang kembali agar bertambah banyak memilih. Hanya saja, ada beberapa orang yang merusak. Bisa dikata parasit. Tapi, setelah dipikir. Semua akan menjadi benalu dengan alasan utama untuk mencari sesuap nasi agar anak istri tidak pergi. Apalagi di masa pandemi.

“Ah sudahlah, jangan ceritain orang. Capek sendiri,” gerutuku dalam lamunan.

Setelah beberapa bulan aku menjalani. Aku mulai merasuk. Tuntutan loyalitas sudah pasti. Tapi aku berusaha bekerja tak menggunakan hati. Hanya bekerja sesuai dengan instruksi. Sedikit aku memahami, apa pun yang dilakukan jika menggunakan hati. Kekecewaan yang akan menghampiri.

Hal ini ku pelajari ketika aku berjuang mendapatkan pekerjaan yang ku inginkan. Sayang, aku tetap merasakan hal yang sama. Aku tak menyalahkan. Aku tahu, Tuhan telah menyiapkan jalan untuk hambanya. Tinggal usahanya saja yang bagaimana.

Aku pun ingat perkataan seorang senior ketika aku baru kerja di kantor lama. “Kita akan memiliki kisah masing-masing jangan mengikuti kisahku,” ucapnya waktu itu dengan gaya orang tua sambil mengelus jenggotnya bulu jenggotnya yang tidak terlalu panjang. Padahal, umur kami pun tak terpaut jauh.

Yang membuatku tak lupa saat pemutusan kontrak kerja yaitu, seminggu setelah akunya wanita yang telah ku lamar untuk mendampingi sisa hidup, dia memutuskan untuk menyudahi, dengan alasan tak ingin jauh meninggalkan orangtuanya.

Tanpa pikir panjang, aku pun menerima alasan itu. Bukan permasalahan berjuang. Ya aku renungkan ketika cinta itu dipaksa maka imbasnya akan lebih menyakitkan. Dan aku memilih untuk melepaskan. Karena cinta akan datang pada yang membutuhkan. Sama halnya kopi, akan nikmat ketika peminum menemukan caranya sendiri. Dan juga, yang terpenting adalah masaku untuk membahagiakan orangtua lebih banyak.

*

Pekerjaanku di tempat yang baru pun telah usai. Tepatnya empat hari sebelum pilkada 2020 berlangsung. Iya, aku bekerja untuk salah satu calon yang hendak maju menjadi wakil rakyatnya. Dia siap mengemban amanah yang diberikan. Sayang, dia tak menang. Padahal, sebelumnya dia telah membuktikan. Selogan “lanjutkan” pun terhenti di hari yang sama saat masyarakat memberikan hak pilihnya.

Saat itu pun semesta seakan memberikan informasi bahwa yang bertahan pun tak akan menang. Semua akan kembali pada pemilik hakikatnya. Tuhan pasti punya jalan. Padahal banyak warga yang memintanya untuk kembali duduk menjadi wali mereka.

Pendapat itu aku dapatkan saat mengerjakan tugas kantor agar warga memberikan testimoni selama kepemimpinan dan harapan kedepannya. Ditambah, pekerjaan harianku mendokumentasikan setiap calon kampanye. Atau, masyarakat tengah mengidolakan pemimpin baru. Entahlah, aku tak paham. Poling diakhir tak begitu jauh. Hanya selisih beberapa persen. Tapi tetap saja, yang banyak akan menjadi pemenang.

“Boy….,” Sapa kawan akrabku dari jauh.

Dia sedikit terlambat. Tugasnya menumpuk usai pemilihan. Maklum, dia masih menjadi buruh tulis. Pun dia datang untuk menemaniku bersantai dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Aku hanya bersyukur senja kali ini tidak jadi ku nikmati sendiri.

“Sok atuh, lanjut nulisnya,” timpalku sekalian menunjukan kursi yang berada didepanku.
“Tau aja,” jawabnya.
“Aku kasian aja kamu sendiri merenung,” tambahnya.

Sementara, aku diam dan tak ingin mengganggunya. Namun, sedikit saran, agar tidak membeli kopi yang aku pesan. Sayang dia telah memesan kopi yang sama sebelum menyapaku.

Beberapa menit kemudian. Kopi dan beberapa makanan datang. Dan aku pun langsung mempersilahkan untuk meminumnya. Dan kembali diam dan menunggu komentar dari kopi yang dipesannya. Yang aku pahami, dia sangat panatik tentang kopi. Sayang, apa yang aku tunggu tak diucapkan. Dia malah bertanya kopi apa yang ku pesan. Karena saat ditanya pelayan, dia hanya bilang samakan saja dengan pesanku dan ditambah makanan ringan.

“Liberika Jember,” jawabku.
“Enak nih, wah rekomendasi juga ini. Rasa buahnya itu keluar dan pahitnya juga ada,” katanya seusai ucapkan kata “ahhhh” setelah minum kopi.

Maklum, ucapan itu sangat wajib dilakukan. Karena minum kopi tanpa kata “ahhhh” setelahnya bagai mencintai tanpa balasan.
Jawabannya membuatku penasaran. Tanpa permisi, aku langsung mengambil cangkirnya dan kuseruput. Benar saja. Setelah ku, kopinya enak dibandingkan kopiku. Tapi, masih dengan jiwa penasaran, aku minum air putih untuk menetralkan mulutku. Setelah itu ku coba lagi kopi yang ada di cangkirku.

“Kok beda ya,” tanyaku.
Dia pun mencoba kopiku.

Setelahnya, dia menjelaskan bahwa rasa kopinya sama. Aku pun tambah heran. Ku coba kopinya dan kopiku sampai berkali-kali. Sampai pada akhirnya dia menahan tanganku.

“Hai.. kopiku habis nanti,” katanya sambil melirikku.
“Kopinya sama, mungkin perasaanmu aja yang beda,” imbunya.
“Enggak mungkin,” jawabku.
“Bisa saja. Perasaanmu kan lagi semrawut karena calon yang kamu dukung enggak menang pilkada-kan ditambah ceritamu dulu yang menyakitkan, uuuuuuuuu,” katanya mengejek.

Aku pun terdiam. Tak lama aku membalas ledekannya dengan tawa terpaksa. Sementara dalam benakku, “apa benar aku kembali kerja menggunakan hati? Ah, sudahlah,” gerutuku dalam hati.
“Mungkin,” jawabku, dan kembali tertawa. Tapi kali ini, tawaku tak palsu. Aku lucu saja dengan candaan dunia yang terkadang kejam. Tak selang lama, kawanku pun ikut tertawa.

Usai itu, dia mengingatkanku bahwa pekerjaan itu perlu menggunakan hati agar nyaman ketika bekerja. “Tapi ingat harus dikontrol. Jangan terlalu panatik. Enggak baik soalnya,” katanya sambil menatapku.

Aku pun menyadari. Ternyata, aku tidak dapat melupakan hati ketika melakukan apapun. Aku juga ingat kata teman sewaktu kuliah. “Manusia hidup dengan paru-paru. Bukan dengan pura-pura”.

Selama pekerjaanku lima bulan lalu, aku berpura-pura bahwa aku bekerja asal bekerja. Bukan bekerja dengan hati. Maka dari itu, aku sering mengeluh. Tapi, ya sudahlah. Sudah berlalu. Kedepannya harus diperbaiki.

Nama Penulis : Reza
TTL : Malang, 7 Agustus 1993
Pendidikan akhir : S1 Pertanian Unmul
Pekerjaan : Pengisi Cerpen di salah satu web sejak 2013 – Pengisi blog sendiri.
Prestasi : Juara 3 lomba cerpen Indonesia, Juara 2 lomba cerpen internasional

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

cuaca 228000611

cuaca 228000612

cuaca 228000613

cuaca 228000614

cuaca 228000615

cuaca 228000616

cuaca 228000617

cuaca 228000618

cuaca 228000619

cuaca 228000620

cuaca 228000621

cuaca 228000622

cuaca 228000623

cuaca 228000624

cuaca 228000625

cuaca 228000626

cuaca 228000627

cuaca 228000628

cuaca 228000629

cuaca 228000630

cuaca 228000631

cuaca 228000632

cuaca 228000633

cuaca 228000634

cuaca 228000635

cuaca 228000636

cuaca 228000637

cuaca 228000638

cuaca 228000639

cuaca 228000640

cuaca 228000641

cuaca 228000642

cuaca 228000643

cuaca 228000644

cuaca 228000645

cuaca 228000646

cuaca 228000647

cuaca 228000648

cuaca 228000649

cuaca 228000650

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

info 328000541

info 328000542

info 328000543

info 328000544

info 328000545

info 328000546

info 328000547

info 328000548

info 328000549

info 328000550

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011436

berita 428011437

berita 428011438

berita 428011439

berita 428011440

berita 428011441

berita 428011442

berita 428011443

berita 428011444

berita 428011445

berita 428011446

berita 428011447

berita 428011448

berita 428011449

berita 428011450

berita 428011451

berita 428011452

berita 428011453

berita 428011454

berita 428011455

berita 428011456

berita 428011457

berita 428011458

berita 428011459

berita 428011460

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

kajian 638000002

kajian 638000003

kajian 638000004

kajian 638000005

kajian 638000006

kajian 638000007

kajian 638000008

kajian 638000009

kajian 638000010

kajian 638000011

kajian 638000012

kajian 638000013

kajian 638000014

kajian 638000015

kajian 638000016

kajian 638000017

kajian 638000018

kajian 638000019

kajian 638000020

kajian 638000021

kajian 638000022

kajian 638000023

kajian 638000024

kajian 638000025

kajian 638000026

kajian 638000027

kajian 638000028

kajian 638000029

kajian 638000030

kajian 638000031

kajian 638000032

kajian 638000033

kajian 638000034

kajian 638000035

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

article 788000001

article 788000002

article 788000003

article 788000004

article 788000005

article 788000006

article 788000007

article 788000008

article 788000009

article 788000010

article 788000011

article 788000012

article 788000013

article 788000014

article 788000015

article 788000021

article 788000022

article 788000023

article 788000024

article 788000025

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

news-1701