Alunan Sape Khas Dayak Menggema di Festival Internasional Colours of Cultures

Admin
22 Okt 2026 13:49
Kaltim 0
3 menit membaca

MEMONESIA.COM, Jakarta – Petikan sape mengalun, membawa warna musik khas Dayak ke panggung Festival Internasional Colours of Cultures. Di antara sorot lampu dan perhatian pengunjung, M Audhy Julian, musisi asal Kota Bontang, Kalimantan Timur, memainkan alat musik tradisional itu, memperkenalkan kekayaan budaya daerah lewat lantunan yang berpadu dengan penampilan musisi dari berbagai penjuru Indonesia.

Mengenakan pakaian adat khas Dayak, lengkap dengan topi berhias bulu burung enggang , Audhy tampil pada malam puncak festival. Jemarinya menari di atas sape, menghasilkan alunan khas yang menghidupkan suasana panggung. Penampilannya menjadi bagian dari pertemuan seni tradisional yang dibawa ke hadapan pengunjung festival internasional tersebut.

Tak sekadar tampil sendiri, Audhy berkolaborasi dengan para pemusik dari lima provinsi di Indonesia. Dalam satu panggung, mereka memadukan permainan musik dari latar budaya berbeda. Audhy mampu menyesuaikan permainannya dengan komposisi kolaborasi tersebut dalam waktu singkat.

Penata musik Ekki Soekarno menilai Festival Colours of Cultures menjadi ruang penting untuk mempertemukan talenta-talenta muda berbakat dari berbagai daerah. Ia mengaku bangga melihat anak muda yang masih memiliki antusiasme untuk menjaga budaya melalui karya seni.

“Talenta muda asal daerah sangat berbakat, Audhy Julian misalnya mampu menyesuaikan musik dan berkolaborasi dalam waktu singkat, itu luar biasa,” ujar Ekki, Minggu (18/10/2026).

Bagi para seniman muda, kesempatan tampil di panggung internasional bukan sekadar pengalaman pertunjukan. Momen tersebut juga membuka ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Disisi lain, Kepala Anjungan Kaltim Taman Mini Indonesia Iindah (TMII) Arief Nur Iman mengatakan terpukau melihat penampilan Audhy Julian yang berhasil berkolaborasi dengan pemusik-pemusik asal daerah lain, ia menilai penampilan tersebut menjadi salah satu penampilan terbaik.

“Kita sangat bangga, ini penampilan terbaik anak daerah terutama saat memainkan lagu Indonesia Raya dengan diiringi alat musik sape kas Kalimantan, ini menjadi kolaborasi yang unik untuk dinikmati,” tandasnya.

Sementara itu, Pembina Tim Kesenian Kota Bontang, Ismid Rizal, mengaku bangga melihat anak-anak binaannya mendapat kesempatan tampil dalam festival yang dihadiri perwakilan dari berbagai negara. Menurutnya, keikutsertaan itu menjadi peluang berharga bagi seniman muda untuk menunjukkan bakat dan kemampuan, sekaligus memperkenalkan kesenian khas Kalimantan Timur.

“Ini kesempatan yang luar biasa dan langka, karena diundang langsung oleh panitia internasional dan nasional. Merupakan kesempatan emas,” ujar Ismid.

Dalam festival tersebut, Tim Kesenian Kota Bontang berkolaborasi dengan Anjungan Kalimantan Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai bagian dari tim provinsi. Mereka menghadirkan pertunjukan tari tradisional dan permainan musik menggunakan sape, alat musik khas masyarakat Dayak.

“Kita dari Bontang ada tim penari dan pemain musik menggunakan alat musik khas Dayak, sape. Semua menampilkan kesenian khas Kalimantan,” jelas Ismid.

Panggung festival itu menjadi ruang bagi kesenian daerah untuk bertemu dengan beragam ekspresi budaya. Melalui tarian dan alunan sape, para seniman Bontang membawa kekayaan tradisi Kalimantan ke tengah perayaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Pemilihan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan turut menghadirkan perpaduan antara warisan sejarah dan dinamika budaya kontemporer. Kawasan bersejarah tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk menikmati pertunjukan seni sekaligus mengenal lebih dekat keberagaman budaya Indonesia.

Festival tahunan Colours of Cultures diharapkan dapat memperluas pengenalan budaya Nusantara, terutama di kalangan generasi muda. Di panggung itu, sape yang dimainkan Audhy menjadi salah satu cara untuk membawa kesenian khas Dayak hadir di tengah perjumpaan budaya dari berbagai daerah.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x