Update Korban Banjir Sumatera: 995 Jiwa Meninggal, 226 Hilang

Admin
13 Des 2025 12:26
3 menit membaca

MEMONESIA.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap lonjakan signifikan korban jiwa akibat rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hingga Jumat (12/11/2025) sore, jumlah korban meninggal tercatat mencapai 995 orang, sementara 226 warga masih dinyatakan hilang.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut angka tersebut masih berpotensi berubah seiring berjalannya proses pencarian dan identifikasi di lapangan.

“Saat ini total ada 995 korban meninggal dunia di tiga provinsi,” ujar Muhari dalam konferensi pers daring.

BNPB juga mencatat jumlah warga yang masih hilang mengalami peningkatan dari data sebelumnya, yakni dari 222 orang menjadi 226 orang. Di sisi lain, jumlah pengungsi tercatat stabil di angka 884.889 jiwa yang tersebar di ratusan titik pengungsian dengan kondisi beragam.

Menurut Muhari, fokus pemerintah saat ini tidak hanya pada pencarian korban, tetapi juga percepatan distribusi logistik serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi para penyintas. Kebutuhan mendesak meliputi air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, hingga layanan kesehatan darurat.

Ia menambahkan, data korban meninggal masih dalam tahap penyesuaian karena pemerintah daerah mulai melakukan verifikasi berbasis data kependudukan atau by name, by address.

“Kami menemukan adanya beberapa jenazah yang ternyata berasal dari area pemakaman luas yang ikut tergerus banjir. Setelah dicek dengan data kependudukan, sejumlah nama dalam daftar korban ternyata sudah meninggal sebelum bencana,” ungkapnya.

Proses verifikasi tersebut diperkirakan akan menghasilkan data yang lebih akurat dalam beberapa hari ke depan. BNPB menyebut sejumlah kabupaten mulai mengirimkan pembaruan data korban berdasarkan pencocokan catatan sipil.

“Mulai besok, beberapa kabupaten kemungkinan sudah mulai mengirimkan data terbaru berdasarkan catatan sipil,” kata Muhari.

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi sejak 24 November 2025 di tiga provinsi Sumatera ini dinilai bukan semata dipicu curah hujan tinggi. Sejumlah pakar menilai peristiwa tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara dinamika atmosfer, perubahan lingkungan, serta menurunnya daya dukung wilayah.

Ketua Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Muhammad Rais Abdillah menjelaskan Sumatera bagian utara saat ini berada pada puncak musim hujan dengan karakteristik dua puncak hujan dalam setahun.

Pada periode tersebut, curah hujan harian tercatat melampaui 150 milimeter. Bahkan, beberapa stasiun BMKG mencatat intensitas hujan hingga 300 milimeter dalam 24 jam, mendekati level hujan ekstrem yang pernah memicu banjir besar di Jakarta tahun 2020.

Selain faktor hujan, fenomena atmosfer skala regional turut memperkuat pembentukan awan hujan. Rais menyebut pada 24 November terbentuk vortex di wilayah Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka.

Meski tidak sekuat siklon di Samudra Hindia, sistem tersebut cukup untuk meningkatkan suplai uap air dan memperluas area presipitasi. Indikasi cold surge vortex serta sistem skala meso juga mempercepat pembentukan awan konvektif dengan intensitas tinggi.

Dari sisi lingkungan dan tata ruang, kerusakan lahan disebut memperparah dampak bencana. Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB Heri Andreas menegaskan bahwa besarnya banjir tidak hanya ditentukan oleh intensitas hujan.

“Banjir bukan semata tentang hujan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana permukaan bumi menerima, menyerap, dan mengalirkan air,” tegasnya.

Heri menjelaskan kawasan berhutan memiliki kemampuan infiltrasi air yang tinggi. Namun, alih fungsi lahan menjadi permukiman, perkebunan intensif, maupun area terbuka menyebabkan daya serap tanah menurun drastis. Kondisi tersebut membuat air hujan langsung melimpas ke sungai, meningkatkan debit secara tiba-tiba dan memicu banjir bandang.

Ia juga menyoroti masih lemahnya peta bahaya banjir di Indonesia akibat keterbatasan data geospasial dan pemodelan. Padahal, menurutnya, perencanaan tata ruang berbasis risiko menjadi kunci utama untuk mencegah bencana serupa kembali terulang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

cuaca 898100136

cuaca 898100137

cuaca 898100138

cuaca 898100139

cuaca 898100140

cuaca 898100141

cuaca 898100142

cuaca 898100143

cuaca 898100144

cuaca 898100145

cuaca 898100146

cuaca 898100147

cuaca 898100148

cuaca 898100149

cuaca 898100150

cuaca 898100151

cuaca 898100152

cuaca 898100153

cuaca 898100154

cuaca 898100155

article 999990061

article 999990062

article 999990063

article 999990064

article 999990065

article 999990069

article 999990070

article 999990071

article 999990072

article 999990073

article 999990074

article 999990075

article 710000131

article 710000132

article 710000133

article 710000134

article 710000135

article 710000136

article 710000137

article 710000138

article 710000139

article 710000140

article 710000141

article 710000151

article 710000152

article 710000153

article 710000154

article 710000155

article 710000156

article 710000157

article 710000158

article 710000159

article 710000160

article 710000161

article 710000162

article 710000163

article 710000164

article 710000165

article 710000166

article 710000167

article 710000168

article 710000169

article 710000170

article 710000171

article 710000172

article 710000173

article 710000174

article 710000175

article 710000176

article 710000177

article 710000178

article 710000179

article 710000180

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

cuaca 638000101

cuaca 638000102

cuaca 638000103

cuaca 638000104

cuaca 638000105

budaya 538000031

budaya 538000032

budaya 538000033

budaya 538000034

budaya 538000035

budaya 538000036

budaya 538000037

budaya 538000038

budaya 538000039

budaya 538000040

budaya 538000046

budaya 538000047

budaya 538000048

budaya 538000049

budaya 538000050

budaya 538000051

budaya 538000052

budaya 538000053

budaya 538000054

budaya 538000055

budaya 538000056

budaya 538000057

budaya 538000058

budaya 538000059

budaya 538000060

psda 438000036

psda 438000037

psda 438000038

psda 438000039

psda 438000040

psda 438000041

psda 438000042

psda 438000043

psda 438000044

psda 438000045

psda 438000046

psda 438000047

psda 438000048

psda 438000049

psda 438000050

psda 438000051

psda 438000052

psda 438000053

psda 438000054

psda 438000055

psda 438000056

psda 438000057

psda 438000058

psda 438000059

psda 438000060

psda 438000061

psda 438000062

psda 438000063

psda 438000064

psda 438000065

psda 438000066

psda 438000067

psda 438000068

psda 438000069

psda 438000070

psda 438000071

psda 438000072

psda 438000073

psda 438000074

psda 438000075

psda 438000076

psda 438000077

psda 438000078

psda 438000079

psda 438000080

psda 438000081

psda 438000082

psda 438000083

psda 438000084

psda 438000085

psda 438000086

psda 438000087

psda 438000088

psda 438000089

psda 438000090

psda 438000091

psda 438000092

psda 438000093

psda 438000094

psda 438000095

psda 438000096

psda 438000097

psda 438000098

psda 438000099

psda 438000100

psda 438000101

psda 438000102

psda 438000103

psda 438000104

psda 438000105

psda 438000106

psda 438000107

psda 438000108

psda 438000109

psda 438000110

news-1701