Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Foto (Nur/Memonesia)BONTANG – Ambruknya tempat penampungan sampah (TPS) di kawasan pesisir Malahing, Kelurahan Tanjung Laut Indah, diduga kuat akibat beban berlebih yang terus menumpuk. Kondisi ini menjadi sorotan serius Pemerintah Kota Bontang, terutama terkait pola pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menilai persoalan ini tidak sekadar kerusakan fasilitas, tetapi juga dipicu lemahnya pengendalian sampah di lingkungan warga.
“RT dan lurah harus inisiatif. Penyelesaian masalah tidak selalu menunggu intervensi dari tingkat kota,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ia menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran perangkat wilayah hingga masyarakat dinilai sangat menentukan agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Selain itu, kebiasaan membuang sampah sembarangan juga menjadi perhatian. Praktik membuang sampah ke laut atau kolong rumah panggung dinilai memperparah kondisi di kawasan pesisir.
“Perilaku masyarakat juga harus berubah. Jangan hanya pemerintah yang bergerak,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemkot membuka peluang keterlibatan pihak swasta melalui program CSR untuk membantu penyediaan fasilitas yang lebih kuat dan memadai.
Namun, Neni mengingatkan, perbaikan infrastruktur tidak akan efektif jika tidak diiringi perubahan perilaku warga.
“Fasilitas saja tidak cukup kalau perilaku tidak ikut berubah,” katanya.
TPS di permukiman atas laut Malahing diketahui roboh Kamis (23/4/2026) malam. Ketua RT 30, Nasir, menyebut kayu penopang yang sudah lapuk tidak mampu lagi menahan beban sampah yang terus bertambah.
Selama ini, lokasi tersebut menjadi titik pengumpulan sampah sebelum diangkut Dinas Lingkungan Hidup dengan frekuensi dua kali dalam sebulan.
Ke depan, frekuensi pengangkutan direncanakan akan ditingkatkan untuk mengurangi penumpukan yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
Tidak ada komentar