SENDAWAR – Musim bangai kembali menjadi berkah bagi masyarakat Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Tradisi panen ikan air tawar yang hanya datang pada periode tertentu itu mampu menghidupkan perekonomian kampung, dengan hasil tangkapan yang melimpah dan nilai jual yang terus bergerak.
Selama sekitar dua pekan, nelayan berbondong-bondong memenuhi sungai sejak pagi hingga malam. Beragam jenis ikan, seperti biawan, lais, baung, patin, hingga toman, berhasil ditangkap dalam jumlah lebih banyak dibanding hari biasa.
Hasil tangkapan tersebut tidak hanya dipasarkan di sejumlah wilayah Kubar, tetapi juga dikirim ke kabupaten tetangga. Kondisi itu membuat aktivitas jual beli ikan meningkat tajam dan mendongkrak pendapatan warga.
Tak hanya nelayan yang menikmati berkah musim bangai. Pedagang ikan, jasa angkutan sungai maupun darat, hingga pelaku usaha pengolahan hasil perikanan ikut merasakan dampak positifnya. Perputaran ekonomi di kampung pun menjadi lebih hidup selama musim panen berlangsung.
Di balik nilai ekonominya, bangai juga menjadi tradisi yang mempererat kebersamaan masyarakat. Warga saling membantu saat menangkap, mengangkut, hingga memasarkan hasil tangkapan, sebuah budaya gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Petinggi Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono, mengatakan potensi perikanan di wilayahnya merupakan aset yang harus dijaga agar terus menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Musim bangai membuktikan bahwa Muara Beloan memiliki sumber daya perikanan yang melimpah. Bukan hanya nelayan yang merasakan manfaatnya, tetapi juga banyak sektor usaha lain yang ikut bergerak sehingga ekonomi masyarakat meningkat,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Menurut Rudy, pemerintah kampung berkomitmen menjaga kelestarian ekosistem perairan agar tradisi panen ikan tetap berlangsung di masa mendatang.
Ia berharap dukungan pemerintah terus diperkuat, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pemasaran, hingga pembinaan bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan.
“Kami ingin Muara Beloan dikenal bukan hanya karena musim bangainya, tetapi juga sebagai sentra perikanan air tawar yang mampu menopang ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Potensi ini bisa membuka lapangan kerja sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah,” katanya.
Senada dengan itu, warga Muara Beloan, Debi, menyebut musim bangai selalu dinantikan karena menjadi kesempatan memperoleh penghasilan lebih besar.
“Biasanya musim bangai berlangsung sekitar setengah bulan, tergantung cuaca dan kondisi air. Selama itu hasil tangkapan cukup banyak. Warga ramai-ramai turun mencari ikan karena hasilnya bisa dijual ke pengepul maupun langsung ke pasar,” tuturnya.
Melimpahnya hasil tangkapan setiap musim bangai menunjukkan bahwa sektor perikanan masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Muara Beloan. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, tradisi tahunan ini dinilai berpotensi berkembang menjadi kekuatan ekonomi lokal yang semakin besar bagi Kubar.
Tidak ada komentar