ADVERTORIAL

Kenaikan Tarif Salah Satu Solusi, Dewan Minta PDAM Hasilkan PAD

Rustam

BONTANG – Komisi II DPRD meminta Perumda Tirta Taman agar lebih memperluas cakupan pelanggan, sehingga bisa menghasilkan laba, dan membantu pemerintah dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kita harus bersiap memasuki Bontang pasca migas, maka PAD harus digenjot,” kata Ketua Komisi II DPRD Rustam saat Rapat Dengar Pendapat bersama Direktur Perumda Tirta Taman, Selasa (10/11).

Menurut Rustam, PDAM berpotensi sebagai sumber PAD. Ketergantungan Bontang terhadap dana bagi hasil (DBH) terlalu tinggi. Menurutnya Bontang tidak bisa terus-terusan bergantung DBH. Sehingga salah satu upaya meningkatkan PAD dengan mendorong perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

Dalam rapat tersebut Direktur Perumda Tirta Taman Suramin memaparkan pendapatan perusahaan plat merah tersebut mencapai RP 43 miliar hingga Oktober 2020 ini, dengan total pengeluaran Rp 36,6 miliar, terinci kebutuhan listrik sebanyak Rp 9,8 miliar, bayar pegawai Rp 8,2 miliar, beban operasional Rp 1,3 miliar, dan bahan kimir Rp 4,7 miliar.

“2019 kami surplus Rp 200 juta. Walau masih untung semu,” bebernya.

Perumda Tirta Taman pun siap untuk mengejar keuntungan, demi menyumbang pendapatan asli daerah. Namun, dengan syarat, sumber air bertambah. Tidak tergantung air tanah saja. Karena air tanah terbatas.

Sementara untuk menambah jangkauan pelanggan, Perumda Tirta Taman harus memastikan air yang tertampung di penyimpanan mereka lebih banyak dari kebutuhan air publik.

Salah satu komponen untuk meningkatkan pemasukan atau laba pun dengan menaikkan tarif. Namun hal itu dikatakan Suramin belum bisa terealisasi dalam waktu dekat. Butuh mekanismes yang panjang. “Butuh persetujuan dewan pengawas, harus ada perdanya,” ujarnya.

Adapun saat ini tarif yang dikenakan masih di bawah harga produksi. Sehingga sampai kini Perumda Tirta Taman belum mampu menyumbang PAD. “Pelanggan khususnya rumah tangga, masih dapat subsidi dari pemerintah,” ungkapnya.

Saat ini, Harga produksi sendiri, sebesar Rp 5.595 per kubik. Sedangkan harga jual Rp 4.911. Minus Rp 684. (*)

.
Comments

POPULER

To Top