Kepala Disdikbud Kota Bontang, Abdu Safa Muha. Dok. MemonesiaBONTANG – Biaya kegiatan perpisahan sekolah yang kerap membebani orang tua kembali menjadi sorotan. Menjawab keresahan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mendorong sekolah-sekolah memanfaatkan fasilitas milik pemerintah agar acara perpisahan tetap berjalan tanpa pungutan berlebihan.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan penggunaan gedung pemerintah menjadi solusi realistis di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap tambahan biaya sekolah, terutama menjelang akhir tahun ajaran.
Menurutnya, momen perpisahan tetap penting bagi siswa, namun pelaksanaannya harus mempertimbangkan kondisi ekonomi orang tua.
“Memakai fasilitas yang ada tentu lebih baik, karena bisa menekan biaya yang harus dikeluarkan,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia menilai fasilitas daerah yang sudah tersedia seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan pendidikan, termasuk acara pelepasan siswa.
Salah satu contoh, kata dia, ada sekolah yang berencana menggunakan Gedung Auditorium 3 Dimensi di Jalan Awang Long sebagai lokasi perpisahan.
“Seperti SMA Yabis yang rencananya diadakan di Gedung Tiga Dimensi, itu bisa jadi referensi bagi sekolah lain,” katanya.
Meski begitu, Disdikbud menegaskan tidak ada larangan bagi sekolah menggelar perpisahan maupun study tour. Namun, setiap keputusan diminta melalui musyawarah bersama antara sekolah, komite, dan wali murid.
Hal itu penting agar kegiatan sekolah tidak berubah menjadi beban baru bagi keluarga siswa.
“Setiap keputusan tetap harus mempertimbangkan kemampuan orang tua, sehingga tidak menimbulkan beban berlebihan,” tegasnya.
Disdikbud berharap semakin banyak sekolah memilih konsep perpisahan yang sederhana, edukatif, dan terjangkau, tanpa mengurangi makna kebersamaan bagi para siswa yang akan melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Tidak ada komentar