Kepala Bidang Ekraf Dinas Pariwisata Kutim, Rifani. (Memonesia/Han)SANGATTA – Dinas Pariwisata Kutai Timur (Dispar Kutim) menetapkan lima subsektor ekonomi kreatif sebagai fokus utama pengembangan daerah demi memperkuat identitas wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Langkah ini diambil setelah melalui survei potensi dan analisis bersama institusi seni, termasuk ISI Yogyakarta.
Kepala Bidang Ekraf, Rifani, menjelaskan bahwa Kutim memang memiliki 17 subsektor ekonomi kreatif, namun tidak semuanya relevan untuk dijadikan lokomotif pembangunan.
“Kami fokus pada subsektor yang dianggap unggulan, seperti kuliner, kriya, musik, film, dan seni pertunjukan. Ini sesuai hasil survei dan analisis kami,” ujarnya, Senin (17/11/2025).

Ia menuturkan bahwa penguatan subsektor tersebut dilakukan lewat pembinaan, fasilitasi, hingga penyediaan sarana bagi para pelaku kreatif. Pelaku kuliner didorong mengembangkan produk khas Kutai Timur, sementara seniman kriya dipermudah aksesnya menuju pasar dan pameran untuk memperluas penjualan.
Di subsektor musik dan film, Bidang Ekraf menyiapkan ruang pengembangan melalui workshop, lomba, serta fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual. Rifani menekankan bahwa strategi penajaman subsektor ini memberikan dampak lebih terukur.
“Dengan fokus pada subsektor unggulan, pelaku kreatif bisa lebih mudah dipantau, dibina, dan dibantu untuk berkembang, sehingga kontribusinya terhadap perekonomian lokal lebih signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan subsektor unggulan juga berkaitan langsung dengan promosi pariwisata Kutai Timur. Event dan festival seperti Lomplay makin dimanfaatkan untuk menampilkan karya kreatif lokal sekaligus menarik minat wisatawan.
“Hal ini sekaligus menempatkan Kutim sebagai destinasi kreatif yang memiliki karakter dan identitas tersendiri,” tutupnya.
Tidak ada komentar