SANGATTA – Pemerintah Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan tingginya angka stunting yang tercatat tahun ini bukan disebabkan oleh munculnya kasus baru, melainkan karena pendataan yang akhirnya berjalan lebih menyeluruh setelah cakupan layanan kesehatan meningkat.
Kepala Desa Swarga Bara Kutim, Wahyuddin Usman, menjelaskan lonjakan angka tersebut terjadi setelah semakin banyak keluarga rutin membawa balita mereka ke posyandu. Kondisi ini membuat pemeriksaan tumbuh kembang berlangsung lebih akurat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kenaikan angka stunting ini bukan sepenuhnya karena kasusnya bertambah, tetapi karena cakupan pendataan kita semakin baik. Dulu banyak yang tidak hadir di posyandu, sekarang mulai aktif datang,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa tahun lalu banyak anak tidak terdata karena minimnya kunjungan posyandu. Rendahnya kesadaran pemeriksaan rutin menyebabkan angka stunting terlihat kecil, meski sebenarnya belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan.
Dengan meningkatnya partisipasi masyarakat, desa kini memiliki gambaran riil mengenai kondisi gizi balita. Hal ini memberikan peluang untuk melakukan intervensi lebih cepat dan tepat sasaran. Program makanan tambahan, vitamin, edukasi gizi keluarga, hingga pemantauan ibu hamil kini dapat menyasar kelompok yang sebelumnya tidak terjangkau.
“Kami sekarang bisa memastikan siapa saja yang harus dibantu. Data yang lebih lengkap membuat penanganan menjadi lebih efektif,” tambah Wahyuddin.
Pemerintah desa juga menggandeng puskesmas, kader PKK, dan kader posyandu untuk memperkuat edukasi soal gizi, kebersihan lingkungan, dan pentingnya ASI eksklusif. Harapannya, angka yang terlihat meningkat ini dapat ditekan pada evaluasi berikutnya setelah intervensi berjalan optimal.
Wahyuddin menegaskan bahwa transparansi data tetap menjadi prioritas agar publik memahami bahwa peningkatan angka bukan cerminan memburuknya situasi, melainkan hasil pendataan yang akhirnya lebih jujur dan terbuka.
“Yang terpenting adalah semua anak terdata dan mendapatkan layanan kesehatan. Dari situ, upaya perbaikan bisa dilakukan dengan benar,” tutupnya.
Tidak ada komentar