Deretan kilang di kawasan pabrik pengolahan gas alam PT Badak NGL. (Foto: Sa’adah)MEMONESIA, Bontang – Di bawah langit Bontang yang tampak pucat, diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Timur dalam beberapa bulan terakhir, kilang PT Badak NGL tetap berdiri kokoh.
Menara-menara perusahaan itu menjulang menembus kelabu. Pipa-pipa saling terhubung, sementara obor memancarkan cahaya api yang tak sedikit pun redup meskipun diterpa angin.
Rangkaian instalasi industri membentang di ujung Bontang, serta api obor yang tetap menyala seolah menjadi penanda kehidupan industri terus berjalan, bahkan ketika alam di sekelilingnya sedang diuji
Namun, di balik megahnya bangunan yang menyungkup tautan besi, baja, dan jaringan pipa PT Badak NGL, ada pertanyaan tentang masa depan. Sampai kapan kilang-kilang ini akan terus beroperasi? Sejauh mana keberlangsungannya bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan industri gas tersebut?
Dalam situasi ekonomi yang sedang meredup, kabar tentang rencana mengembalikan PT Badak NGL ke masa jayanya lewat pengoperasian kembali kilang, membawa secercah harapan bagi sebagian pihak, terutama masyarakat Kota Bontang.
Kilang yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan industri gas di Bontang, kembali hadir untuk meningkatkan keandalan operasional melalui rencana reaktivasi Train F.
Kejayaan industri gas PT Badak NGL bukan hanya menjadi bagian dari sejarah Bontang, tetapi kilang-kilang itu juga membawa asa yang dinantikan masyarakat.
Proyek yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada awal 2027 itu diperkirakan, membutuhkan hingga 300 tenaga kerja per kilang.
Bagi masyarakat, angka tersebut bukan sekadar proyeksi kebutuhan pekerja. Di baliknya, ada doa-doa warga Bontang yang ingin memperoleh pekerjaan, menjaga penghasilan keluarga, sekaligus ikut terlibat dalam keberlanjutan industri yang telah lama menjadi salah satu penopang ekonomi kota.
Berdasarkan catatan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bontang, sepanjang Januari hingga September 2026, jumlah pencari kerja sekitar 4.289 orang.
Di balik ribuan angka itu, tersimpan pula harapan yang menggantung di langit dan doa yang dipanjatkan dalam diam, agar bisa mendapatkan pekerjaan demi kehidupan yang sedang diperjuangkan.
Maka, rencana menghidupkan kembali Train F tak sekedar menjadi proyek berskala besar bagi perusahaan, tetapi juga membuka jalan bagi tenaga kerja lokal mengambil bagian dari konstruksi raksasa itu.
Wali Kota Bontang Neni Moernaeni pun menyambut baik rencana reaktivasi Train F. Menurutnya, proyek ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Beriringan dengan rencana besar itu, Neni meminta perusahaan untuk mematuhi Peraturan Daerah (Perda) Kota Bontang Nomor 10 Tahun 2018, tentang perekrutan dan penempatan tenaga kerja lokal, untuk memberikan proporsi 75 persen tenaga lokal dari total seluruh tenaga kerja.
“Tolong perusahaan agar mematuhi ketentuan perundang-undangan ini, saya tidak mau ada gejolak sosial yang timbul terkait ketenagakerjaan di PT Badak ke depan,” ujarnya dalam rapat koordinasi Pemkot Bontang dan PT Badak NGL, Senin (26/10/2026), di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang.
Yang dinanti masyarakat bukan hanya deru mesin yang kembali terdengar atau nyala obor yang menghiasi langit Bontang, tetapi membuka pintu-pintu pekerjaan untuk menata kehidupan.
Agar warga Bontang tak hanya menjadi penonton kebangkitan kejayaan industri di kotanya sendiri, Neni meminta perusahaan menyampaikan proyeksi tenaga kerja secara tertulis.
Informasi yang mencakup jumlah pekerja, kualifikasi pendidikan, jenis keterampilan yang dibutuhkan, hingga jadwal perekrutan, bisa memberikan gambaran kepada masyarakat untuk segera menyiapkan diri.
Bagi mereka yang masih berjuang mencari peluang, kepastian informasi dan jadwal perekrutan menjadi sangat penting.
“Kami meminta, manfaat reaktivasi tidak hanya dirasakan perusahaan melalui peningkatan operasional, tetapi masyarakat juga perlu diberi kesempatan agar perputaran ekonomi tetap berjalan,” imbuhnya dengan tegas, namun penuh harapan.
Section Head Project Reactivation Train F Badak NGL, Vicky Indrafusa menjelaskan, proyek reaktivasi Train F direncanakan dimulai awal 2027, dengan target penyelesaian pada Desember 2028.
Seiring proyek berjalan, kebutuhan tenaga kerja akan tumbuh mengikuti perkembangan proyek. Diperkirakan, kebutuhan untuk satu kilang mencapai 300 orang.
Meski peluang itu terbuka lebar untuk warga Bontang, setiap posisi tetap memiliki standar persyaratan yang harus dipenuhi. Sebab, di balik kokohnya kilang berdiri, ada kesiapan dan keahlian yang perlu diterapkan.
“Rekrutmen akan disesuaikan dengan kebutuhan proyek. Untuk kualifikasi khusus tenaga organik, minimal D3 teknik,” katanya.
Artinya, peluang kerja dari reaktivasi ini dapat mencakup kebutuhan yang berbeda-beda sesuai tahapan proyek. Namun, masyarakat tetap perlu mencermati persyaratan setiap posisi agar dapat mempersiapkan diri sejak dini.
“Kebutuhan tenaga kerja organik untuk kebutuhan operasional kilang masih dalam tahap pengusulan kepada holding perusahaan,” lanjutnya.
Sementara itu, Senior Manager Supply Chain Badak NGL, Yuli Gunawan, menyampaikan bahwa gambaran mengenai formasi kebutuhan tenaga kerja diperkirakan dapat diketahui pada akhir 2026.
“Setelah itu, proses perekrutan direncanakan berjalan mulai awal 2027,” bebernya.
Impian agar kilang Badak NGL terus bertahan dan kembali menyalakan denyut industri gas Bontang, tak bisa hanya bertumpu pada reaktivasi Train F.
Di masa mendatang, perusahaan juga menyimpan rencana besar untuk menghidupkan kembali Train C dan Train D, seiring ditemukannya dua cadangan gas baru oleh ENI.
Kendati demikian, jalan menuju tujuan itu masih memerlukan waktu. Vicky menjelaskan, rencana tersebut masih dalam tahap evaluasi dan belum memperoleh keputusan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Kedua train itu ditargetkan dapat dihidupkan pada akhir 2029, bergantung pada kepastian pasokan gas dan hasil kajian investasi,” sebutnya.
Jika seluruh rencana itu kelak terwujud, cita-cita untuk melihat kilang Badak NGL kembali beroperasi semakin dekat. Keberlanjutan industri gas di Kota Bontang pun membawa harapan tersendiri.
Kilang diharapkan mampu beroperasi secara andal
Kilang diharapkan mampu membantu perputaran ekonomi
Kilang diharapkan menjadi pintu rezeki bagi keluarga
Bagi sebagian warga Bontang bekerja di PT Badak NGL itu bukan sekadar tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga sebuah kebanggaan dan cita-cita.
Bagaimana tidak, sulit rasanya berpaling dari tawaran yang menjanjikan kepastian penghasilan, sekaligus terjaminnya masa depan.
Rico Tafani (29), salah satu warga Berbas Tengah mengatakan, PT Badak NGL pernah menjadi tempat menggantungkan harapannya.
Saat bekerja sebagai pegawai kontrak di perusahaan itu, ia sempat menikmati penghasilan hingga dua digit setiap bulannya.
“Waktu itu ikut shutdown seperti maintenance kilang Badak, selama tiga bulan. Kalau tidak salah di Tahun 2021 lalu,” ungkapnya.
Menurut Rico, penghasilan itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar istri dan seorang putri kecilnya, yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
“Untuk kebutuhan rumah lebih dari cukup, bahkan saya bisa menabung dari penghasilan tiga bulan kerja di Badak NGL,” ujarnya.
Mendengar kabar salah satu kilang akan dioperasikan kembali, itu menjadi secercah harapan bagi masyarakat, termasuk dirinya.
Dari lubuk hatinya, ada harapan yang diam-diam dia sematkan, agar suatu hari nanti bisa bekerja kembali di PT Badak NGL.
Lebih dari sekadar melihat kilang kembali hidup, mereka mendambakan kebangkitan industri yang turut membuka banyak peluang kerja, serta sebagai jalan mengantarkan keluarga-keluarga di Kota Taman, menuju kehidupan yang mapan.
Kilang Badak NGL itu diharapkan tak hanya kembali menyala, tetapi juga bertahan dalam waktu yang panjang, dan menua bersama waktu.
Bukan hanya menjadi saksi perjalanan industri gas Bontang, melainkan tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk menggantungkan penghidupan.
Sebab, di tengah lesunya ekonomi, nyala kilang Badak NGL bukan hanya tentang mesin-mesin yang kembali berdetak, tetapi menjadi pijakan bagi kehidupan Bontang.
Masyarakat Bontang kini menanti, menyimpan asa agar rencana mega proyek itu tak sekadar menjadi kabar baik yang singgah sesaat, dan berlalu tanpa meninggalkan jejak manfaat.
Tidak ada komentar