Seni Bertahan Badak NGL Menjaga Napas Industri Bontang di Tengah Krisis Gas

Admin
13 Okt 2026 09:06
7 menit membaca

MEMONESIA, Bontang – Di balik deru mesin dan kerumitan jaringan instalasi pipa pengolahan gas alam cair di sudut Kota Bontang. PT Badak NGL menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan operasional kilangnya.

Ada masa ketika delapan kilang (train) milik PT Badak NGL menjadi saksi, betapa besarnya industri gas alam cair di Kota Bontang.

Namun, kian lama, waktu membawa perubahan. Pasokan gas yang kian menyusut, membuat perusahaan harus menyesuaikan jumlah fasilitas yang beroperasi.

Bahkan, perusahaan sempat berada pada titik terendah sepanjang sejarah operasionalnya.

Di tengah kondisi tersebut, Badak NGL berupaya menjaga agar industri yang telah lama tumbuh menjadi bagian dari kehidupan Bontang itu tidak berhenti begitu saja.

Director & Chief Operating Officer (COO) PT Badak NGL, Feri Sulistyo Nugroho, mengungkapkan pasokan gas yang masuk ke fasilitas pengolahan perusahaan sempat menyentuh level terendah dalam sejarah operasional kilang.

“Pasokan gas yang masuk bulan lalu merupakan feed gas terkecil yang masuk kilang terendah sepanjang sejarah kami. Meski satu kilang lagi menampung pasokan dari Pupuk Kaltim karena sedang melakukan Turn Around (TA),” bebernya dihadapan awak media se-Kota Bontang, saat Media Gathering bertajuk Strike Up a Connection di Gedung Olahraga Bowling PT Badak NGL, Bontang, Sabtu (12/9/2026).

Dalam kondisi tersebut, perusahaan terpaksa memangkas operasional hingga hanya satu kilang pengolahan gas yang berjalan, dari total delapan kilang yang dimiliki, kondisi itu masuk dalam fase paling kritis Badak NGL.

Namun, seiring bertambahnya kebutuhan gas di sektor hulu dan industri pengguna gas di Bontang, Badak NGL kembali menjalankan satu unit kilang cadangan yang sebelumnya diparkir sebagai antisipasi menghadapi kondisi yang tidak menentu.

Terbatasnya pasokan yang diterima PT Badak NGL, tidak terlepas dari skema pembagian gas untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.

Jatah gas alam yang dialirkan ke Bontang tidak seluruhnya diperuntukkan untuk diolah menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair.
Melainkan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas industri domestik, termasuk PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), PT Kaltim Methanol Industri (KMI), dan beberapa perusahaan lainnya.

Bagi industri seperti pupuk dan petrokimia, gas bukan hanya sebagai sumber energi, namun juga menjadi bahan baku utama yang menentukan keberlangsungan proses produksi.

Karena itu, kebutuhan industri dalam negeri harus lebih dahulu dipenuhi, demi menopang perekonomian Bontang.

Kondisi tersebut membuat operasional PT Badak NGL sangat bergantung pada dinamika kebutuhan industri pengguna gas.

Ketika salah satu fasilitas domestik menjalani perawatan berkala atau mengalami gangguan peralatan, alokasi gas yang sebelumnya terserap di fasilitas tersebut dapat berubah.

Dalam keadaan itu, PT Badak NGL memiliki peran penting untuk menyerap kelebihan gas, agar dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Feri menjelaskan, perusahaan harus selalu siap menghadapi perubahan pasokan yang dapat terjadi dalam waktu singkat.

“Produksi dari sumur bisa berubah dengan cepat. Fluktuasinya bahkan dapat terjadi dalam hitungan hari, bukan hanya dalam hitungan jam. Karena itu, kesiapan kilang menjadi sangat penting,” jelasnya.

Delapan kilang yang dimiliki PT Badak NGL menjadi penanda besarnya kapasitas pengolahan gas di Bontang saat itu. Namun, keberadaan fasilitas tersebut tidak serta-merta menjamin tingginya produksi, lantaran seluruh operasional tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan umumnya menjalankan dua train dengan satu unit lainnya disiapkan sebagai cadangan operasional.

Cadangan dibutuhkan untuk mengantisipasi perubahan pasokan, terutama ketika industri pengguna gas mengalami perawatan atau gangguan yang membuat penyerapan gas berkurang.

Namun, ketika pasokan terus menyusut, mempertahankan banyak kilang dalam keadaan aktif bukan perkara mudah. Perusahaan harus memperhitungkan efisiensi dan kebutuhan operasional.

Lalu, PT Badak NGL tidak hanya dituntut menjaga keandalan peralatan, tetapi juga harus menyiapkan strategi jangka panjang, untuk memastikan setiap kilang dapat diaktifkan kembali ketika bahan baku meningkat.

Dari Cadangan Baru, Tumbuh Harapan

Di tengah gejolak persoalan itu, diterima informasi bahwa cadangan gas baru di wilayah lepas pantai Kalimantan Timur ditemukan, kabar itu memberikan sedikit nafas lega bagi keberlanjutan operasional PT Badak NGL.

Geng North-1 di Blok North Ganal, yang dikembangkan perusahaan energi asal Italia, Eni SpA, bersama mitra terkait mengkonfirmasi penemuan sumber cadangan gas tersebut, menjadi harapan baru bagi industri ini.

Tambahan pasokan dari pengembangan lapangan gas baru itu, diharapkan dapat memperkuat ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan gas di Bontang. Pasokan itu diproyeksikan mulai mengalir ke PT Badak NGL sekitar akhir 2028.

Pada tahap awal, Badak NGL menargetkan pengoperasian empat kilang melalui skema operation mode 4 plus 0. Artinya, empat kilang akan beroperasi tanpa fasilitas cadangan.

“Jika empat kilang bekerja pada tingkat beban maksimal 100 persen, maka kapasitas penyerapan gas diperkirakan mencapai 430–450 juta kaki kubik atau million cubic feet (MMCF),” ujarnya.

Rencana tersebut menjadi kesempatan bagi PT Badak NGL, untuk kembali mengaktifkan kembali kilang yang selama ini tidak beroperasi.

Menghidupkan Kilang, Menjaga Keberlanjutan

Bagi PT Badak LNG, tantangan ke depan adalah memastikan lebih banyak kilang yang bekerja dan fasilitas beroperasi secara konsisten dan tahan lama.

Skema operation mode 4 plus 0 yang direncanakan, memiliki konsekuensi peralatan dan kesiapan teknis yang harus dijaga lebih ketat.

Dalam skema tersebut, seluruh empat unit yang ditempatkan tanpa cadangan perlu mempertimbangkan target produksi, umur fasilitas, biaya pemeliharaan, serta keberlanjutan pasokan dalam jangka panjang.

Hal ini pun disambut baik oleh orang nomor satu di Kota Bontang. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mendukung penuh rencana pengaktifan kembali sejumlah kilang PT Badak NGL.

Namun, ia mengingatkan agar perusahaan tidak cuma mengejar banyaknya fasilitas yang beroperasi.

Keberlanjutan produksi harus menjadi pertimbangan utama. Pengoperasian beberapa kilang secara konsisten dalam jangka panjang dinilai lebih penting.

“Dibandingkan mengaktifkan banyak fasilitas, tetapi tidak mampu mempertahankan operasionalnya. Jadi, lebih baik dimaksimalkan pemanfaatannya empat kilang ini,” ungkapnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan tantangan industri migas yang memerlukan perencanaan jangka panjang, terutama ketika pasokan gas menjadi faktor penentu keberlangsungan produksi.

Ketika Kilang Melemah, Ekonomi Kota Ikut Terancam

Peran PT Badak LNG juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi industri migas nasional. Sektor ini melibatkan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, mulai dari pencarian dan produksi gas di hulu, penyaluran melalui infrastruktur gas, pengolahan di kilang, hingga distribusi produk kepada pengguna akhir.

Perwakilan SKK Migas Kalimantan-Sulawesi (Kalsul), Danang Agung, mengingatkan bahwa penurunan produksi di sektor hulu, berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap industri pengolahan dan perekonomian daerah.

“Ketika pasokan gas dari hulu menurun, maka PT Badak LNG dapat mengalami keterbatasan bahan baku, termasuk sektor pupuk, juga dapat menghadapi tekanan apabila pasokan untuk kebutuhan produksinya terganggu,” jelasnya.

Dampak tersebut pada akhirnya dapat meluas ke daerah yang kegiatan ekonominya berkaitan erat dengan industri migas.

Danang juga menyoroti tantangan ketahanan energi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Ia membandingkan produksi minyak nasional yang berada di kisaran 600 ribu barel per hari dengan kebutuhan domestik sekitar 1,6 juta barel per hari.

Selisih kebutuhan inilah yang harus dipenuhi melalui impor. Ketergantungan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap perubahan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok, akibat ketegangan geopolitik internasional.

“Apalagi sekarang masih dalam mode perang Iran-Amerika,” sebutnya.

Selain memengaruhi kegiatan industri, perubahan produksi dan harga migas juga dapat memengaruhi penerimaan daerah melalui dana bagi hasil (DBH).

Ketika penerimaan dari sektor tersebut melemah, kemampuan pemerintah daerah membiayai pembangunan dapat ikut tertekan.

Tantangan ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sebuah industri migas, menjadi salah satu bagian penting dari struktur ekonomi kota.

Agar mata rantai kehidupan industri hulu dan hilir migas tak goyah, maka pasokan energi harus tetap terjaga, memperjuangkan aktivitas industri terus bergerak, sehingga kebergantungan penghidupan tetap berjalan.

Meski dihadapkan berbagai tantangan, PT Badak NGL juga berupaya mempertahankan kontribusinya kepada masyarakat.

Perusahaan tetap berusaha menjalankan berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat, walaupun harus bekerja dengan keterbatasan anggaran.

Setiap tambahan pasokan gas diharapkan membuka ruang lebih besar bagi perusahaan untuk mengoptimalkan operasional, sekaligus mempertahankan kontribusi terhadap lingkungan sekitarnya.

Bagi PT Badak NGL, setiap tambahan pasokan gas bukan sekadar kembali membangiktkan kilang yang telah lama berdiam. Lebih dari itu, ada cita-cita untuk menjaga perannya selama setengah abad ini, yang menjadi bagian penting dalam mata rantai energi nasional.

Sementara bagi Bontang, nasib keberlanjutan kilang menyimpan arti yang jauh lebih mendalam. Di tengah carut-marutnya kondisi ekonomi, Badak NGL menjadi salah satu tumpuan kehidupan kota.

Pada akhirnya, aktivitas kilang perlahan-lahan melemah, tak hanya mesin-mesin yang kehilangan gairahnya, tetapi ada kehidupan masyarakat yang turut kehilangan asa.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x