Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Abdu Safa Muha. Foto (nur/memonesia)BONTANG – Wacana penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari yang disebut berasal dari pemerintah pusat mulai ditanggapi di daerah. Di Bontang, sektor pendidikan justru melihat kebijakan itu tidak bisa diterapkan begitu saja.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Abdu Safa Muha, menilai pola kerja di dunia pendidikan berbeda dengan sektor pemerintahan lain. Karena itu, sekolah tidak bisa disamakan dengan sistem kerja umum yang lebih mudah diatur lewat skema WFH.
Menurut dia, proses belajar mengajar masih sangat bergantung pada pertemuan langsung antara guru dan siswa. Interaksi di kelas dinilai tetap menjadi faktor utama untuk memastikan pembelajaran berjalan efektif.
“Yang belajar tatap muka saja masih harus dimaksimalkan, bagaimana kalo kembali daring lagi,” katanya, Rabu (8/4/2026).
Abdu mengatakan, pengalaman saat pandemi seharusnya sudah cukup menjadi bahan evaluasi. Saat pembelajaran dipindahkan ke sistem daring, banyak persoalan muncul dan tidak semuanya bisa diselesaikan dengan baik.
Ia menyebut salah satu masalah paling terasa adalah pemahaman siswa yang tidak maksimal. Di sisi lain, pengawasan terhadap penggunaan handphone selama proses belajar juga menjadi persoalan yang tidak kecil.
“Mulai dari keterbatasan pemahaman siswa dan juga minimnya kontrol penggunaan handphone selama kegiatan belajar ini,” tegasnya.
Menurut Abdu, penggunaan perangkat digital tanpa pengawasan justru membuka masalah baru. Ketika siswa belajar dari rumah, kontrol terhadap aktivitas mereka menjadi jauh lebih lemah dibanding saat proses belajar berlangsung di sekolah.
Ia menilai, kondisi itu berisiko membuat tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sebab, gawai yang seharusnya dipakai untuk belajar bisa dengan mudah beralih fungsi tanpa pengawasan yang cukup dari guru maupun orang tua.
“Anak-anak dengan gawai itu perlu pengawasan. Kalau tidak, bisa menimbulkan masalah lain,” jelasnya.
Karena itu, jika harus memilih, Disdikbud Bontang tetap cenderung mempertahankan sistem tatap muka sebagai metode utama. Pilihan tersebut dinilai lebih realistis dibanding membawa lagi sekolah ke pola yang sebelumnya sudah banyak menimbulkan kendala.
Meski wacana WFH mulai ramai dibicarakan, Abdu memastikan sampai saat ini pihaknya belum menerima aturan resmi yang secara khusus mengatur penerapan WFH satu hari untuk sektor pendidikan. Artinya, sejauh ini sekolah di Bontang masih berjalan seperti biasa dan belum ada dasar kebijakan yang bisa langsung diterapkan. (ns/sr)
Tidak ada komentar