5 Satwa Langka Indonesia yang Terancam Punah

Admin
2 Feb 2021 05:56
5 menit membaca

Ilustrasi/Pexels

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, selain memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tentunya negara kita ini memiliki banyak sekali spesies hewan yang merupakan spesies asli Indonesia.

Akan tetapi beberapa hewan asli asal Indonesia ini sudah sangat langka dan bahkan terancam punah.

Hal ini di akibatkan oleh masih maraknya perburuan dan penyelundupan spesies hewan yang di lindungi.

Dikutip dari Kompas.com, berikut daftar 5 satwa dari Indonesia yang terancam punah:

1. Orangutan

Ilustrasi (BORNEONEWS.CO.ID)

Orangutan termasuk spesies yang berada dalam kondisi sangat rawan punah. Ada tiga jenis orangutan di dunia, dan ketiganya berasal dari Indonesia.

Mereka adalah orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), orangutan Sumatera (Pongo abelii), dan orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus).

IUCN memberi label CR (Critically Endangered) kepada ketiga spesies tersebut, sebab populasi mereka yang cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya.

Berdasarkan data IUCN tahun 2016, diperkirakan hanya tersisa sekitar 800 individu orangutan Tapanuli yang masih hidup.

Sementara itu, berdasarkan data yang sama, jumlah individu orangutan Sumatera yang tersisa diperkirakan sekitar 13.846 individu.

Sedangkan untuk orangutan Kalimantan/Borneo, belum dapat diketahui dengan pasti, kecuali untuk wilayah Sabah yang diperkirakan memiliki sekitar 11.000 individu pada tahun 2005.

Aktivitas manusia

IUCN menyebut, aktivitas manusia menjadi ancaman terbesar terhadap kepunahan ketiga spesies orangutan tersebut.

Aktivitas tersebut antara lain, pertambangan, pertanian dan perkebunan, pembukaan lahan untuk pemukiman, juga pembabatan hutan. 

Perburuan dan perdagangan ilegal orangutan juga kian memperburuk kelestarian spesies tersebut di alam liar.

Baca juga: 5 Fakta Unik dari Hewan yang Mengejutkan

2. Trenggiling Sunda

Ilustrasi. (BBC.COM)

Trenggiling Sunda (Manis javanica) merupakan spesies trenggiling yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, antara lain Myanmar, Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Spesies ini juga mendapat label CR dari IUCN, karena tren populasinya yang terus mengalami penurunan, hingga mencapai 80 persen, dalam 21 tahun terakhir.

IUCN mengatakan, populasi trenggiling Sunda sulit diperkirakan. Selain karena kelangkaannya, juga karena sifat dari spesies ini yang hidup bersembunyi sehingga sulit melakukan pemantauan.

Ancaman utama trenggiling Sunda adalah perburuan besar-besaran, baik untuk konsumsi pribadi maupun diperdagangkan di pasar internasional.

Ramuan obat

Tingginya perburuan trenggiling, sebagian besar didorong oleh permintaan di China dan Vietnam, serta nilai jualnya yang mahal.

Di kedua negara itu, daging trenggiling dijadikan santapan mewah di restoran, dan sisiknya digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional.

Diperkirakan, lebih dari 280.000 trenggiling diperdagangkan di pasar Asia sepanjang tahun 2001 hingga 2018. Sebagian besar merupakan spesies trenggiling Sunda.

Para penyelundup Indonesia secara ilegal mengekspor trenggiling hidup serta daging dalam jumlah besar, terutama sejak tahun 2000, beberapa di antaranya berasal dari Kalimantan Timur.

Perburuan trenggiling Sunda merupakan ancaman terbesar di Indonesia, terutama di Sumatera, Kalimantan dan Jawa, terbukti dengan penyitaan yang melibatkan beberapa ribu trenggiling selama dua dekade terakhir.

3. Badak Jawa

Ilustrasi. (DW.COM)

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan spesies badak yang tinggal di pulau Jawa, namun kini hanya bisa ditemukan di daerah Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

IUCN juga memberikan label CR untuk spesies ini, karena hanya 33 persen dari populasinya yang diketahui mampu melakukan reproduksi.

Dikutip dari Kompas.com, 20 September 2020, jumlah kumulatif Badak Jawa menurut data terakhir Kementerian LHK, mencapai 74 individu, masing-masing 40 jantan dan 34 betina.

Jumlah tersebut termasuk dua ekor badak Jawa yang baru lahir pada tahun 2020, yaitu anak badak jantan Luther dan anak badak betina Helen.

Untuk komposisi umur populasi badak, terdiri dari 15 ekor berusia anak-anak dan 59 ekor merupakan usia remaja-dewasa.

Baca juga: 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia

Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan, ada harapan bahwa kelangsungan hidup badak Jawa bisa dilestarikan.

Meski demikian, Wiratno menyebut bahwa badak Jawa adalah spesies yang sensitif dan butuh perlindungan penuh.

Dia mengatakan, penyebab menyusutnya populasi badak Jawa di masa lalu adalah karena aktivitas perkebunan di era kolonial, perburuan untuk mengambil cula badak, dan sifat badak yang penyendiri sehingga menyulitkan terjadinya reproduksi alami.

4. Harimau Sumatra

Ilustrasi. (SHUTTERSTOCK)

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies harimau asli (endemik) pulau Sumatera, Indonesia.

IUCN menetapkan status spesies ini adalah CR, karena populasinya yang sangat sedikit dan potensinya yang rawan punah.

Dikutip dari Kompas.com, 25 Juli 2020, populasi harimau Sumatera diperkirakan tidak sampai 400 ekor, berdasarkan data pada 2004.

Penyempitan habitat dan tingginya perburuan liar menjadi ancaman yang harus dihadapi oleh spesie yang hampir punah ini.

Hilangnya habitat

Perluasan perkebunan kelapa sawit di pulau Sumatera merupakan pendorong utama di balik hilangnya hampir 20 persen habitat harimau Sumatera pada 2002-2012.

Perburuan liar harimau Sumatera didorong oleh permintaan bagian-bagian tubuh harimau yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama di China.

Meski demikian sangat banyak bukti ilmiah yang menyatakan bahwa bagian-bagian tubuh harimau Sumatera tidak memiliki nilai manfaat sama sekali dari segi medis.

5. Rangkong Gading

Ilustrasi. (SHUTTERSTOCK)

Rangkong gading (Rhinoplax vigil) merupakan spesies burung yang bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan, juga di Thailand dan Myanmar.

Maskot provinsi Kalimatan Barat ini disebut spesies prioritas untuk konservasi karena statusnya yang makin terancam punah.

Dikutip dari Kompas.com, 30 Agustus 2019, berdasarkan data red list IUCN, mulanya rangkong gading berstatus terancam punah (near threatened), tapi pada 2015 status itu berubah menjadi kritis (critically endangered).

Yokyok Hadiprakarsa dari Rangkong Indonesia International Hemeted Hombill Conservation Society menyatakan, banyak sekali persoalan yang menyebabkan Rangkong Gading Indonesia ini menjadi berstatus kritis tersebut.

Baca juga: 5 Fakta Unik tentang Tertawa

Lambat berbiak

Dari fakta bioekologinya, burung yang satu ini berbiak lambat dalam satu siklus. Mereka hanya akan menghasilkan 3 butir telur sekali bereproduksi. Ini lain dengan unggas pada umumnya yang menghasilkan telur banyak dan konsisten.

Kemudian, banyak orang merasa tertarik untuk mengkoleksi dan atau melakukan jual-beli aksesoris yang dibuat dari bagian tubuh rangkong gading.

Hasil perburuan rangkong gading bahkan di komersialisasikan dan dilelang dalam bentuk bervariasi, seperti cincin, gelang, ukiran, helai ekor burung dan lainnya, yang terbuat dari paruh dan bulu ekor.

Penjualan aksesoris dari rangkong gading ini paling banyak bermuara di Tiongkok, China. Dalam tahun 2012-2017 telah ditemukan sekitar 2.800 paruh rangkong gading yang berada di pasaran gelap.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

berita 128000726

berita 128000727

berita 128000728

berita 128000729

berita 128000730

berita 128000731

berita 128000732

berita 128000733

berita 128000734

berita 128000735

berita 128000736

berita 128000737

berita 128000738

berita 128000739

berita 128000740

berita 128000741

berita 128000742

berita 128000743

berita 128000744

berita 128000745

berita 128000746

berita 128000747

berita 128000748

berita 128000749

berita 128000750

berita 128000751

berita 128000752

berita 128000753

berita 128000754

berita 128000755

berita 128000756

berita 128000757

berita 128000758

berita 128000759

berita 128000760

berita 128000761

berita 128000762

berita 128000763

berita 128000764

berita 128000765

berita 128000766

berita 128000767

berita 128000768

berita 128000769

berita 128000770

artikel 128000821

artikel 128000822

artikel 128000823

artikel 128000824

artikel 128000825

artikel 128000826

artikel 128000827

artikel 128000828

artikel 128000829

artikel 128000830

artikel 128000831

artikel 128000832

artikel 128000833

artikel 128000834

artikel 128000835

artikel 128000836

artikel 128000837

artikel 128000838

artikel 128000839

artikel 128000840

artikel 128000841

artikel 128000842

artikel 128000843

artikel 128000844

artikel 128000845

artikel 128000846

artikel 128000847

artikel 128000848

artikel 128000849

artikel 128000850

artikel 128000851

artikel 128000852

artikel 128000853

artikel 128000854

artikel 128000855

artikel 128000856

artikel 128000857

artikel 128000858

artikel 128000859

artikel 128000860

artikel 128000861

artikel 128000862

artikel 128000863

artikel 128000864

artikel 128000865

story 138000816

story 138000817

story 138000818

story 138000819

story 138000820

story 138000821

story 138000822

story 138000823

story 138000824

story 138000825

story 138000826

story 138000827

story 138000828

story 138000829

story 138000830

story 138000831

story 138000832

story 138000833

story 138000834

story 138000835

story 138000836

story 138000837

story 138000838

story 138000839

story 138000840

story 138000841

story 138000842

story 138000843

story 138000844

story 138000845

story 138000846

story 138000847

story 138000848

story 138000849

story 138000850

story 138000851

story 138000852

story 138000853

story 138000854

story 138000855

story 138000856

story 138000857

story 138000858

story 138000859

story 138000860

story 138000861

story 138000862

story 138000863

story 138000864

story 138000865

story 138000866

story 138000867

story 138000868

story 138000869

story 138000870

story 138000871

story 138000872

story 138000873

story 138000874

story 138000875

journal-228000376

journal-228000377

journal-228000378

journal-228000379

journal-228000380

journal-228000381

journal-228000382

journal-228000383

journal-228000384

journal-228000385

journal-228000386

journal-228000387

journal-228000388

journal-228000389

journal-228000390

journal-228000391

journal-228000392

journal-228000393

journal-228000394

journal-228000395

journal-228000396

journal-228000397

journal-228000398

journal-228000399

journal-228000400

journal-228000401

journal-228000402

journal-228000403

journal-228000404

journal-228000405

journal-228000406

journal-228000407

journal-228000408

journal-228000409

journal-228000410

journal-228000411

journal-228000412

journal-228000413

journal-228000414

journal-228000415

journal-228000416

journal-228000417

journal-228000418

journal-228000419

journal-228000420

article 228000406

article 228000407

article 228000408

article 228000409

article 228000410

article 228000411

article 228000412

article 228000413

article 228000414

article 228000415

article 228000416

article 228000417

article 228000418

article 228000419

article 228000420

article 228000421

article 228000422

article 228000423

article 228000424

article 228000425

article 228000426

article 228000427

article 228000428

article 228000429

article 228000430

article 228000431

article 228000432

article 228000433

article 228000434

article 228000435

article 228000436

article 228000437

article 228000438

article 228000439

article 228000440

article 228000441

article 228000442

article 228000443

article 228000444

article 228000445

article 228000446

article 228000447

article 228000448

article 228000449

article 228000450

article 228000451

article 228000452

article 228000453

article 228000454

article 228000455

update 238000492

update 238000493

update 238000494

update 238000495

update 238000496

update 238000497

update 238000498

update 238000499

update 238000500

update 238000501

update 238000502

update 238000503

update 238000504

update 238000505

update 238000506

update 238000507

update 238000508

update 238000509

update 238000510

update 238000511

update 238000512

update 238000513

update 238000514

update 238000515

update 238000516

update 238000517

update 238000518

update 238000519

update 238000520

update 238000521

update 238000522

update 238000523

update 238000524

update 238000525

update 238000526

update 238000527

update 238000528

update 238000529

update 238000530

update 238000531

update 238000532

update 238000533

update 238000534

update 238000535

update 238000536

update 238000537

update 238000538

update 238000539

update 238000540

update 238000541

update 238000542

update 238000543

update 238000544

update 238000545

update 238000546

news-1701