Daud Yordan dan Pangalangok Jilah (Panglima Jilah) direncanakan akan berperan dalam film tersebut.SAMARINDA – Peradaban asli Borneo mulai diarahkan ke layar lebar lewat proyek film kolosal Dayak yang kini masuk tahap pra-produksi. Tim produksi menyebut proyek ini lahir untuk mengangkat sejarah panjang dan budaya Dayak ke medium yang lebih luas, di tengah ramainya perhatian publik terhadap film berbasis budaya lokal.
Penanggung Jawab Produksi, Abriantinus, mengatakan inisiatif tersebut digerakkan masyarakat Dayak sendiri. Menurut dia, film ini ingin membawa narasi peradaban Dayak yang selama ini belum banyak tampil kuat di layar lebar.
“Kami telah berkoordinasi dengan kementerian terkait, yakni Kementerian Kebudayaan RI dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI, serta melakukan pertemuan dengan para gubernur di Kalimantan untuk menyamakan visi,” ujar Abriantinus, Senin (13/4/2026).
Ia menyebut dukungan lintas daerah mulai dibangun sejak awal. Langkah itu dinilai penting karena proyek yang disiapkan tidak kecil, baik dari sisi cerita, lokasi produksi, maupun pelibatan sumber daya lokal.
Ketua Tim Produksi, Thoeceng T.F Asang, mengatakan pihaknya sudah bertemu dengan Gubernur Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Sementara untuk Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, tim masih menunggu audiensi lanjutan.
Di sisi lain, proyek ini juga membawa beban besar. Saat bicara soal peradaban Dayak di Borneo, tantangannya bukan hanya membuat film yang menarik, tetapi juga memastikan cerita yang dibangun tidak berhenti di kemasan visual dan jargon budaya.
Thoeceng menjelaskan, film ini akan mengulas entitas besar Dayak Borneo. Materi yang diangkat mencakup sejarah Ngayau, pengaruh imigran, interaksi dengan suku Kutai dan Banjar, hingga kaitannya dengan ekspedisi Kerajaan Majapahit.
“Kami mengemas sejarah tersebut menjadi konten kontemporer dan fiksi yang menarik. Mengingat ada 405 etnis Dayak, film ini akan memadukan empat unsur: aksi, romansa terlarang adat, mistis, dan humor,” ujarnya.
Narasi film, kata dia, akan menghubungkan kisah masa kini dengan kilas balik ke masa kerajaan. Beberapa kerajaan yang masuk dalam rencana pengisahan antara lain Kerajaan Nasarunai dan kerajaan di Kalimantan Barat.
Tim produksi juga diperkuat sejumlah nama di level eksekutif, di antaranya Panglima Jilah dan Daud Jordan. Proyek ini turut mendapat dukungan dari sejumlah anggota DPR RI.
Tahap pra-produksi dijadwalkan berjalan sejak 1 April hingga 1 Juni 2026. Setelah itu, proses kasting akan digelar 3 Juni sampai 8 Agustus 2026.
Proses syuting diperkirakan berlangsung sekitar satu bulan. Ada lima wilayah besar yang disiapkan sebagai lokasi tentatif, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Timur, lokasi yang disiapkan berada di Balikpapan dan Samarinda. Untuk Kalimantan Utara, tim melirik Tanjung Selor dan Tarakan, sedangkan Kalimantan Selatan mencakup Tanah Bumbu dan Batulicin.
Kalimantan Tengah direncanakan mengambil lokasi di Palangkaraya dan Pangkalan Bun. Sementara Kalimantan Barat disiapkan di Pontianak dan Singkawang.
Selama masa kasting, tim juga akan menggelar pameran industri kreatif dan kerajinan UMKM Dayak. Agenda itu bukan hanya untuk mencari pemeran, tetapi juga membuka ruang promosi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Abriantinus mengatakan proyek ini juga diarahkan untuk menyiapkan aktor dan aktris dari generasi muda Dayak. Menurut dia, keberadaan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan juga menjadi momentum agar karya budaya dari Borneo tidak hanya ramai dibicarakan, tetapi benar-benar diproduksi.
“Kami ingin mempersiapkan SDM lokal semaksimal mungkin, apalagi dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara di Kalimantan. Ini adalah momen kebudayaan Dayak harus bersinar,” ucapnya.
Saat ini, sekretariat produksi telah dibuka di tiga wilayah, yakni Kalimantan Tengah, Jakarta, dan Kalimantan Barat. [Did]
Tidak ada komentar