Bupati Kutai Kertanegara, Aulia Rahman Basri saat meresmikan jembatan Bakoh Sukasari dan Jembatan KPC Desa Bukit Pariaman Kecamatan Tenggarong Seberang, Rabu ( 25/3/2026). Foto (Ist)TENGGARONG – Dua jembatan lama di Desa Bukit Pariaman, Kecamatan Tenggarong Seberang, akhirnya direvitalisasi setelah kondisinya dinilai rapuh dan membahayakan warga. Jembatan Bakoh Sukasari dan Jembatan KPC itu diresmikan penggunaannya oleh Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, Rabu (25/3/2026).
Revitalisasi dilakukan setelah jembatan lama yang sebelumnya berbahan kayu ulin tak lagi dianggap layak. Usia konstruksi yang menua dan tingginya lalu lintas harian membuat akses tersebut rawan bagi warga yang setiap hari melintas.
Sekitar pukul 14.00 Wita, Aulia berangkat dari Pendopo Odah Etam Tenggarong menuju Desa Bukit Pariaman. Ia didampingi sejumlah kepala OPD dan komunitas trail.
Kepala Desa Bukit Pariaman Sugeng Riyadi mengatakan, pembangunan ulang jembatan menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda. Menurut dia, jembatan lama sudah terlalu uzur dan tidak lagi memenuhi standar keamanan.
Ia menyebut jembatan tersebut merupakan akses andalan warga. Namun karena faktor usia dan beban lalu lintas yang terus berjalan setiap hari, strukturnya makin rapuh dan membahayakan pengguna jalan.
“Ini jembatan andalan warga. Tapi karena faktor usia dan lalu lintas harian, strukturnya mulai membahayakan. Alhamdulillah pembangunan jembatan ini menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan desa tahun ini,” ujarnya.
Jembatan itu kemudian dibangun ulang dengan struktur baja agar lebih kuat dan tahan lama. Pengerjaannya dilakukan pihak ketiga melalui Dinas Pekerjaan Umum Kukar dengan skema pengadaan resmi.
Sugeng mengatakan, proyek tersebut tetap memperhatikan kelayakan teknis dan standar keselamatan kerja. Pembangunan dimulai sejak 2025 dan baru rampung tahun ini.
Ia menambahkan, setelah selesai dikerjakan, jembatan itu kini sudah bisa digunakan masyarakat. Kehadiran akses baru tersebut dinilai penting karena berkaitan langsung dengan mobilitas warga dan kelancaran aktivitas ekonomi di desa.
Jembatan yang dibangun memiliki panjang 20 meter dan lebar 5 meter. Ukuran itu disiapkan untuk mendukung lalu lintas warga di kawasan tersebut.
Lanjut ia mengatakan peresmian Jembatan Bakoh Sukasari dan Jembatan KPC berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Menurut dia, dua akses itu menjadi penghubung penting untuk transportasi warga di Desa Bukit Pariaman.
Ia menyebut keberadaan jembatan akan mempermudah distribusi hasil bumi ke pasar. Selain itu, akses anak-anak sekolah yang harus melintasi sungai juga diharapkan menjadi lebih lancar.
Aulia juga menyinggung dampaknya terhadap sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Ia menilai keberadaan infrastruktur dasar seperti jembatan masih menjadi penentu bergerak atau tidaknya aktivitas warga di tingkat desa.
“Dengan adanya kedua jembatan ini, hasil bumi bisa lebih cepat sampai ke pasar, anak-anak sekolah tidak lagi terhambat menyeberang sungai, dan peluang ekonomi menjadi lebih terbuka khususnya di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Bukit Pariaman,” katanya.
Ia meminta warga ikut menjaga fasilitas yang sudah dibangun. Menurut dia, jembatan tersebut perlu dirawat bersama agar manfaatnya bisa dirasakan lebih lama.
“Kita rawat bersama, agar manfaatnya bisa dirasakan lebih lama,” ujarnya.
Meski sudah diresmikan, kondisi jembatan lama yang sempat membahayakan warga menjadi catatan tersendiri. Revitalisasi baru dilakukan setelah akses utama yang dipakai masyarakat sehari-hari berada dalam kondisi rapuh.
Tidak ada komentar