Kepala Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Wahyuddin Usman. (Memonesia/Han)SANGATTA – Aktivitas ekonomi di Desa Swarga Bara selama bertahun-tahun berjalan sangat ditopang oleh keberadaan perusahaan besar di sekitar Sangatta, terutama PT Kaltim Prima Coal (KPC). Ketergantungan yang makin kuat ini mulai menjadi perhatian pemerintah desa, mengingat sektor tambang memiliki masa operasi yang tidak selamanya stabil.
Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, mengatakan sejak awal perkembangan desa pada 2000-an, PT KPC menjadi magnet utama bagi penduduk yang mencari pekerjaan. Warga terserap sebagai karyawan tetap, tenaga kontraktor, operator alat berat, hingga pekerja pendukung dalam rantai industri tambang.
“Sebagian besar masyarakat Swarga Bara bekerja di PT KPC dan perusahaan-perusahaan mitra. Ini yang menjadi sumber penghasilan utama warga kami,” ujarnya, Sabtu (14/11/2025).
Data pemerintah desa menunjukkan mayoritas warga masih menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertambangan dan industri penunjangnya. Lonjakan kebutuhan tenaga kerja dari aktivitas operasional PT KPC pada masa awal ekspansi disebut menjadi pemicu utama tingginya ketergantungan tersebut.

“Kedekatan lokasi desa dengan area perusahaan membuat Swarga Bara menjadi salah satu wilayah pemukiman favorit pekerja tambang,” tambahnya.
Keberadaan PT KPC juga memicu tumbuhnya ekonomi pendukung. Banyak usaha kecil bermunculan sebagai penyedia jasa makanan, usaha kos dan sewa rumah, transportasi, hingga kebutuhan harian pekerja tambang. Wahyuddin menyebut perputaran uang desa cukup tinggi karena ritme kerja masyarakat yang bergelut di lingkungan industri tambang.
“Dampak ekonominya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja di perusahaan, tetapi juga oleh pelaku UMKM di desa,” jelasnya.
Meski memberi dampak ekonomi signifikan, pemerintah desa mulai menilai ketergantungan yang terlalu besar berisiko terhadap stabilitas ekonomi jangka panjang. Diversifikasi usaha digenjot melalui pelatihan keterampilan, penguatan UMKM, dan koordinasi dengan dinas terkait untuk membuka peluang baru di luar sektor tambang.
Wahyuddin menegaskan desa membutuhkan fondasi ekonomi yang lebih kokoh mengingat masa operasi tambang tidak berlangsung permanen. Pemerintah desa berharap kombinasi antara pekerjaan formal dan pertumbuhan usaha kecil dapat menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kami mendorong warga agar tidak hanya bergantung pada satu sektor. Penguatan ekonomi berbasis usaha kecil harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Tidak ada komentar