Trauma Anak Korban Kebakaran Kukar Dipantau lewat Perubahan Perilaku

Admin
9 Okt 2026 17:53
2 menit membaca

MEMONESIA.COM, Tenggarong – Perubahan perilaku menjadi salah satu hal yang diperhatikan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam memantau kondisi psikologis anak-anak korban kebakaran di Tenggarong. Anak yang biasanya ceria tetapi berubah menjadi pendiam perlu mendapat perhatian dan pendampingan.

Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan jajaran untuk menyisir warga terdampak, terutama anak-anak yang berpotensi membutuhkan dukungan psikologis setelah mengalami kebakaran.

“Memang pada saat selesai kebakaran, saya minta teman-teman untuk menyisir, karena biasanya ada anak-anak yang perlu kita dampingi,” ujarnya.

Pemantauan dilakukan untuk mengenali perubahan kondisi anak sejak dini. Menurut Syafliansyah, pengalaman traumatis yang tidak ditangani dapat menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan.

“Dengan bermain dan menggambar seperti ini, kita harapkan traumanya bisa berkurang. Karena biasanya kalau trauma anak-anak tidak cepat ditangani, maka bisa jangka panjang,” jelasnya.

Sebagai langkah awal, DP3A Kukar menggelar kegiatan bermain dan menggambar, Kamis (8/10/2026). Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan dengan cara yang lebih nyaman.

Sekitar 50 anak mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD), termasuk siswa kelas III dan IV dari sekolah di sekitar lokasi kebakaran. DP3A Kukar juga menyediakan alat tulis dan perlengkapan menggambar.

Selain mendampingi anak, petugas memberikan edukasi kepada orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak setelah mengalami peristiwa traumatis. Pengamatan orang tua dinilai penting untuk mengenali kondisi anak dan mengetahui kapan mereka membutuhkan dukungan lebih lanjut.

DP3A Kukar akan mengevaluasi kondisi anak-anak setelah pendampingan awal untuk menentukan kebutuhan kegiatan lanjutan. Syafliansyah mengatakan sejumlah orang tua juga meminta agar pendampingan serupa kembali digelar.

“Sementara kita hari ini dulu melaksanakan kegiatan ini, nanti kita lihat kondisinya. Karena tadi ada permintaan juga dari ibu-ibunya, mereka ingin didampingi dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Nanti kita jadwalkan lagi kegiatan seperti ini, sambil kita evaluasi prosesnya,” ungkapnya.

Syafliansyah berharap pendampingan tersebut membantu anak-anak memulihkan kondisi emosional sehingga dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman.

“Harapannya melalui kegiatan ini, mudah-mudahan anak-anak hilang traumanya. Sehingga kita ingin anak-anak kita ceria kembali, ketawa kembali, dan bisa melupakan peristiwa yang kemarin,” pungkasnya. (Adv/Ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x