Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri.
MEMONESIA.COM, Tenggarong – Anak-anak korban kebakaran di Jalan A.M. Alimuddin, RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), membutuhkan perlengkapan sekolah pengganti. Seragam, sepatu, hingga alat tulis mereka hangus terbakar saat api melalap permukiman warga.
Iin, salah seorang korban, mengatakan dirinya hanya sempat menyelamatkan diri ketika kebakaran terjadi. Tidak ada barang yang berhasil dibawa keluar, termasuk perlengkapan sekolah anak-anaknya.
“Yang sangat kami perlukan itu perlengkapan anak-anak sekolah, karena saya keluar cuma diri saja, menyelamatkan diri saja. Jadi apa pun tidak ada, perlu perlengkapan sekolah semuanya, seragam, sepatu, alat-alat tulis dan semuanya,” kata Iin.
Selain perlengkapan sekolah, dokumen penting milik warga, termasuk ijazah, juga ikut terbakar. Iin berharap pengurusan dokumen pengganti dapat dipermudah agar warga tidak kesulitan mengurus kembali berkas yang hilang.
“Hangus terbakar semua. Ijazah-ijazah juga semuanya habis,” ungkapnya.
“Kami berharap untuk pengurusan surat-surat itu dipermudah, tidak dipersulit. Karena memang ini di luar kendali kami, bukan keinginan kami untuk kejadian seperti ini,” lanjut Iin.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar memastikan pemenuhan perlengkapan sekolah menjadi salah satu prioritas pemulihan jangka pendek. Pemerintah juga mendata kebutuhan warga yang kehilangan barang maupun perlengkapan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan pemulihan dilakukan secara bertahap agar warga dapat kembali menjalankan kegiatan, termasuk anak-anak yang harus bersekolah.
“Jangka pendek adalah kita memastikan bahwa proses aktivitas sehari-hari warga masyarakat kita itu tidak terganggu. Bagi yang bersekolah, itu perlengkapan sekolahnya terpenuhi,” kata Aulia, Kamis (8/10/2026).
Aulia mengatakan pemerintah kecamatan dan kelurahan telah diminta mendata kebutuhan setiap korban agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
“Itu yang kami perintahkan kemarin. Sehingga kepada Plt Camat dan Pak Lurah untuk melakukan upaya-upaya sehingga warga masyarakat kita bisa melaksanakan kegiatan,” ujarnya.
Selain membantu pemulihan kebutuhan warga, Pemkab Kukar mengevaluasi kondisi permukiman yang menjadi lokasi kebakaran. Salah satu persoalan yang ditemukan ialah akses jalan yang terbatas sehingga menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran menjangkau titik api.
Menurut Aulia, keterbatasan akses turut memengaruhi durasi pemadaman. Berdasarkan laporan yang diterima pemerintah, proses pemadaman kebakaran tersebut berlangsung sekitar dua jam.
“Biasanya pada umumnya bisa memadamkan api kurang dari 30 menit. Nah kemarin itu sampai dua jam itu pemadaman baru bisa dilakukan atau diselesaikan,” tuturnya.
Pemkab Kukar berencana mengevaluasi dan menata kawasan tersebut sebagai bagian dari pemulihan jangka menengah dan panjang. Langkah ini mencakup peninjauan kondisi permukiman serta kebutuhan sarana pendukung agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih efektif jika kejadian serupa terulang.
“Termasuk kita berusaha untuk menata daerah ini sehingga ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan kemudian hari terjadi, kita sudah bisa melakukan penanganan sebagaimana mestinya,” jelas Aulia. (Adv/Ns)
Tidak ada komentar