Kasus ISPA Bontang Naik, Dinkes Ingatkan Tak Buru-buru Kaitkan dengan Karhutla

Admin
2 Sep 2026 14:24
Bontang 0
3 menit membaca

MEMONESIA.COM, Bontang – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bontang kembali meningkat dalam dua bulan terakhir. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mengingatkan peningkatan tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data Dinkes menunjukkan jumlah kasus ISPA sempat terus menurun sejak awal 2026. Pada Januari tercatat 2.493 kasus, kemudian turun menjadi 2.105 kasus pada Februari dan 1.872 kasus pada Maret.

Penurunan berlanjut pada April dengan 1.845 kasus dan mencapai titik terendah pada Mei, yakni 1.587 kasus.

Memasuki Juni, tren tersebut berbalik. Kasus ISPA naik menjadi 1.857 kasus atau bertambah sekitar 17 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan masih berlanjut pada Juli dengan 1.880 kasus. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinkes, terlebih Agustus 2026 juga diwarnai meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara. Namun, ia meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan asap karhutla sebagai penyebab meningkatnya kasus ISPA.

“Belum tepat kalau langsung menyimpulkan bahwa kasus ISPA di Bontang pasti meningkat akibat karhutla. Hubungan tersebut harus dibuktikan dengan melihat beberapa indikator secara bersamaan,” jelasnya, Rabu (2/9/2026).

Menurut Toetoek, ISPA memiliki banyak faktor pemicu. Karena itu, peningkatan kasus tidak bisa hanya dilihat dari keberadaan karhutla di wilayah Kalimantan.

“ISPA memiliki banyak faktor penyebab, bukan hanya asap karhutla,” tegasnya.

Dinkes akan melihat sejumlah indikator untuk mengetahui apakah peningkatan kasus memiliki keterkaitan dengan paparan asap karhutla. Salah satunya adalah kesesuaian waktu antara kejadian kebakaran dan munculnya gangguan kualitas udara.

Indikasi keterkaitan akan lebih kuat apabila dalam rentang sekitar tiga hingga tujuh hari setelah terjadi kebakaran, kualitas udara memburuk secara signifikan. Pada periode yang sama, kunjungan pasien ISPA juga meningkat, khususnya di wilayah yang berada dalam arah sebaran asap.

Sejauh pemantauan Dinkes, kondisi udara di Bontang belum menunjukkan dampak buruk yang signifikan akibat kiriman asap karhutla lintas wilayah.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta melakukan langkah pencegahan apabila kondisi udara mulai dipengaruhi asap. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika jarak pandang menurun atau udara mulai terasa berasap.

“Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker, memperbanyak minum air, dan tutup ventilasi rumah apabila asap mulai masuk,” tegasnya.

Dinkes juga mengingatkan kelompok rentan, terutama balita dan lansia, untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan. Pertolongan medis perlu segera dicari apabila muncul gejala berat.

“Terkhusus balita dan lansia yang lebih rentan. Jangan tunggu kondisi memburuk baru mencari pertolongan medis,” tandasnya.

Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami sesak atau kesulitan bernapas berat, napas sangat cepat, nyeri dada, maupun penurunan kondisi tubuh dan kesadaran.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x