Kepala SPPG Bontang Selatan 5, Gusti memberi keterangan saat rapat evaluasi SOP MBG. MEMONESIA.COM, Bontang – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5, Gusti, dicecar dalam rapat evaluasi kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami puluhan siswa SD dan SMP YPVDP Bontang.
Dalam rapat tersebut, Gusti menyebut dugaan awal mengarah pada menu ayam suwir kemangi yang disajikan kepada siswa, Senin (10/8/2026). Namun, ia menegaskan dugaan itu belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
“Begitu saya dapat telepon dari atasan bahwa menu ayam suwir yang kemungkinan menjadi penyebab kejadian seperti kemarin itu, baru saya terpikir bahwa kemungkinan itu,” ujar Gusti.
Ayam suwir kemangi merupakan satu dari lima menu yang dibagikan kepada siswa. Selain itu, terdapat nasi uduk tanpa santan, oseng tahu, tumis pepaya dan wortel, serta jeruk Pontianak.
Dugaan terhadap ayam suwir muncul setelah puluhan siswa mengalami mual, muntah, dan pusing usai menyantap makanan tersebut. Kondisi ini kemudian memicu evaluasi terhadap proses penyediaan hingga distribusi MBG.
Gusti mengatakan, pihaknya langsung meminta sekolah mengamankan makanan yang masih utuh setelah menerima laporan adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
“Saya langsung menghubungi kepala sekolah dan meminta makanan yang masih utuh tidak dimakan dulu. Dibiarkan saja untuk keperluan pemeriksaan,” katanya.
Tak hanya sampel makanan dari sekolah, SPPG juga memiliki sampel dari setiap menu yang diproduksi. Seluruh sampel tersebut telah diserahkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan laboratorium PT Badak untuk diperiksa.
Di tengah pemeriksaan tersebut, Gusti memastikan proses produksi di SPPG telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP). Mulai dari penggunaan alat pelindung diri, penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi disebut telah dilakukan sesuai ketentuan.
Ia menjelaskan, ayam diterima dalam kondisi beku sehari sebelum proses memasak. Sementara bahan seperti tahu disebut datang sore hingga malam hari dan langsung diolah.
“Kalau tahu datang magrib, malam itu juga langsung dimasak,” jelasnya.
Setiap bahan baku yang datang juga diperiksa petugas administrasi dan tim dapur. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, pemasok diminta melakukan penggantian.
Meski begitu, penerapan SOP belum dapat menjawab penyebab puluhan siswa mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG. Sampai saat ini, ayam suwir masih sebatas dugaan awal.
Kepastian penyebabnya masih menunggu pemeriksaan laboratorium dan investigasi Dinas Kesehatan Bontang.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan pemeriksaan tidak dapat dilakukan secara instan. Sejumlah tahapan diperlukan untuk memastikan kandungan dalam makanan yang dikonsumsi para siswa.
“Pemeriksaan seperti tidak bisa dilakukan dengan instan, kemungkinan tiga hari lagi keluar hasilnya,” singkat Toetoek.
Tidak ada komentar