Ilustrasi AIBONTANG – Citra kaya dan dermawan yang melekat pada sosok DE—yang dijuluki “Sultan Bontang”—ternyata dibangun dari uang para korban investasi bodong.
Di balik kasus penipuan trading valuta asing yang diungkap Polres Bontang, penyidik menemukan motif yang lebih dari sekadar keuntungan finansial. Tersangka diduga mengejar pengakuan sosial dan validasi lingkungan.
Kasat Reskrim Randy Anugrah Putranto mengungkapkan, hasil analisis rekening koran menunjukkan dana investor tidak pernah diputar dalam aktivitas trading sebagaimana dijanjikan. Uang tersebut justru digunakan untuk membayar utang pribadi, membiayai gaya hidup, hingga membangun citra sebagai sosok dermawan.
“Tersangka ingin mendapat validasi dari lingkungan sekitarnya agar dianggap sukses dan dermawan. Dari situlah muncul julukan ‘Sultan Bontang’,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (18/2/2026).
Polisi menemukan bukti transfer Rp167.450.000 kepada seseorang berinisial MM. Dana itu berkaitan dengan pembayaran utang tersangka kepada pihak lain berinisial FM senilai Rp167 juta.
Selain itu, terdapat transfer Rp5 juta untuk saweran pentas musik, serta sejumlah transaksi lain mulai Rp50 ribu hingga Rp300 ribu untuk pembayaran ke penjual dan kurir. Sebagian dana juga disebut disalurkan kepada teman dan pelaku UMKM untuk membangun citra sosial.
Di permukaan, aksi berbagi itu tampak seperti kemurahan hati. Namun faktanya, sumber dana berasal dari korban yang dijanjikan keuntungan besar tanpa risiko dalam investasi trading fiktif.
Temuan ini memperlihatkan bagaimana skema investasi bodong tak hanya soal tipu daya finansial, tetapi juga tentang pencitraan. Uang korban menjadi alat membangun reputasi, sementara kerugian yang ditanggung investor mencapai ratusan juta rupiah.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kemewahan dan kedermawanan yang dipertontonkan di ruang publik belum tentu lahir dari sumber yang sah.
Tidak ada komentar