Lantai Jemur Portabel Kukar Dievaluasi, Ukuran Kurang Flaksibel dan Bakal Dipangkas

Admin
4 Nov 2026 11:59
4 menit membaca

MEMONESIA, Tenggarong – Lantai jemur portabel bantuan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) ternyata belum mudah digunakan seluruh petani. Ukurannya yang mencapai 4 x 24 meter menyulitkan penempatan di sejumlah wilayah, terutama daerah berbukit dengan lahan datar terbatas.

Temuan tersebut membuat Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar mengevaluasi desain fasilitas pengering gabah itu. Salah satu opsi yang disiapkan untuk pengembangan 2027 ialah memangkas panjang lantai jemur menjadi 12 meter, dari sebelumnya 24 meter.

Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan perubahan dimensi diperlukan agar fasilitas tersebut lebih mudah ditempatkan dan dimanfaatkan petani sesuai kondisi lahan di masing-masing wilayah.

“Untuk 2027, kemungkinan akan kami coba desain ulang supaya tidak terlalu panjang. Mungkin nanti ukurannya dibuat 4 x 12 meter agar teman-teman petani lebih mudah menempatkannya,” ucap Ananias.

Evaluasi ini merupakan tindak lanjut pelaksanaan program lantai jemur portabel yang dikembangkan melalui program dedikasi Kukar Idaman Terbaik. Fasilitas tersebut dirancang sebagai alternatif pengeringan gabah bagi petani yang kesulitan menyediakan lahan untuk membangun lantai jemur permanen.

Dalam perencanaannya, program ini ditargetkan mencapai sekitar 500 unit. Namun, hingga periode 2025–2026, realisasinya baru sekitar 104 unit atau 20,8 persen dari target.

Ananias menjelaskan, lantai jemur portabel yang diproduksi dalam tahap awal memiliki ukuran 4 x 24 meter dengan kapasitas pengeringan sekitar dua ton gabah dalam sekali penjemuran.

“Yang kami buat dalam tahap pertama selama dua tahun terakhir ini ukurannya memang cukup panjang. Kapasitasnya sekitar dua ton untuk sekali jemur, dengan ukuran 4 x 24 meter,” terangnya.

Kapasitas besar tersebut sebelumnya menjadi pertimbangan dalam menentukan ukuran fasilitas. Namun, kondisi lapangan menunjukkan panjang 24 meter tidak selalu cocok dengan karakteristik lahan petani.

Ananias mencontohkan kawasan Bukit Biru yang memiliki kontur berbukit. Di wilayah tersebut, mencari lahan datar dengan panjang hingga 24 meter bukan perkara mudah.

“Kalau di beberapa wilayah, mungkin masih mudah mencari tempatnya. Tetapi ketika kami melihat kondisi di daerah seperti Bukit Biru yang berbukit-bukit, mencari lahan sepanjang 24 meter yang benar-benar sesuai itu cukup sulit,” katanya.

Menurutnya, pengalaman penerapan di lapangan menjadi bahan evaluasi bahwa fasilitas portabel belum tentu praktis apabila dimensinya tidak sesuai dengan kondisi wilayah.

“Dulu kami berharap ukuran 4 x 24 meter ini bisa efektif karena kapasitasnya cukup besar. Namun, setelah diterapkan, ternyata kalau terlalu panjang justru kurang efektif di beberapa lokasi. Karena itu, kami akan mencoba membuatnya lebih pendek,” jelasnya.

Meski begitu, perubahan ukuran belum ditetapkan sebagai desain akhir. Disketapang Kukar masih perlu mengkaji apakah pengurangan panjang menjadi 12 meter akan berdampak terhadap kapasitas pengeringan dan manfaat fasilitas bagi petani.

Gagasan lantai jemur portabel sendiri bermula dari pengamatan Disketapang Kukar terhadap teknologi pengeringan garam di sejumlah daerah di Jawa Timur, khususnya Lamongan dan Gresik.

Teknologi tersebut menggunakan bangunan berbentuk terowongan atau tunnel dengan struktur setengah lingkaran dan memanfaatkan sinar ultraviolet untuk proses pengeringan garam. Konsep itu kemudian diamati dan disesuaikan agar dapat digunakan untuk mengeringkan gabah.

“Awalnya, kami melihat terowongan garam yang digunakan teman-teman di Jawa Timur. Di daerah Lamongan dan Gresik, mereka memproduksi garam menggunakan bangunan berbentuk setengah lingkaran dengan pengeringan menggunakan sinar ultraviolet atau disebut juga garam tunnel,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, Disketapang Kukar menggandeng pihak swasta untuk memproduksi fasilitas tersebut. Pilihan teknologi portabel diambil karena pemerintah menghadapi kendala penyediaan lahan untuk membangun lantai jemur permanen.

Pembangunan fasilitas permanen membutuhkan lokasi khusus dan dukungan masyarakat melalui penyediaan atau hibah lahan. Sementara itu, lahan yang tersedia juga dapat dimanfaatkan petani untuk kegiatan pertanian lain, seperti menanam sayuran.

“Kenapa awalnya kami mencoba lantai jemur portabel? Karena kami terkendala masalah lahan. Kalau membuat lantai jemur permanen, tentu membutuhkan lahan dan harus ada hibah lahan dari masyarakat,” tuturnya.

Karena itu, fasilitas yang bisa dipindahkan diharapkan memberi keleluasaan kepada petani dalam memanfaatkan lahan. Namun, evaluasi desain kali ini menunjukkan aspek kemudahan penempatan perlu menjadi pertimbangan utama, selain kapasitas pengeringan.

Ananias menegaskan, pengembangan lantai jemur portabel tidak hanya berorientasi pada bentuk dan kapasitas fasilitas, tetapi juga pada kemudahan penerapannya di lapangan.

“Yang terpenting, fasilitas ini benar-benar bisa dimanfaatkan oleh petani. Kami ingin inovasi yang dibuat bukan hanya bagus dalam perencanaan, tetapi juga mudah diterapkan dan memberikan manfaat ketika digunakan di lapangan,” pungkasnya. (Adv/Ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x