Kelompok Wanita Tani di Kukar Didorong Budidaya Sorgum dan Jelai Demi Ketahanan Pangan

Admin
13 Okt 2026 14:34
2 menit membaca

MEMONESIA.COM, Tenggarong – Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kutai Kartanegara (Kukar) didorong membudidayakan sorgum dan jelai sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar merencanakan pengembangan kedua komoditas tersebut di 20 kawasan.

Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan pengembangan sorgum dan jelai menjadi bagian dari diversifikasi pangan melalui program Stop Boros Pangan dan kampanye “Kenyang Tidak Harus Nasi”.

“Kalau kita mau mandiri pangan, kita tidak boleh hanya tergantung kepada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman. Salah satunya melalui diversifikasi pangan dengan memberdayakan pangan-pangan lokal kita,” ujarnya, Senin (12/10/2026).

Sebelum diperluas ke 20 kawasan bersama KWT, pengembangan kedua komoditas itu direncanakan dimulai di dua kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan (KPT), yakni Desa Sumber Sari dan Karang Tunggal.

Program ini tidak hanya berfokus pada penanaman. Disketapang Kukar juga merancang pengembangan hingga tahap panen, pengemasan, dan pemasaran agar hasil budidaya dapat diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.

Ananias menjelaskan, jelai telah dikenal masyarakat Kutai, khususnya masyarakat Dayak. Sementara sorgum yang berasal dari luar daerah dinilai berpotensi dibudidayakan di Kukar dengan mempertimbangkan kondisi tanah dan iklim setempat.

Pengembangan kedua komoditas tersebut juga telah masuk dalam Rencana Strategis Disketapang Kukar periode 2025–2029. Upaya ini diharapkan memperluas pilihan bahan pangan lokal yang dapat diolah dan dikonsumsi masyarakat.

Salah satu yang menjadi perhatian ialah pengolahan sorgum agar lebih mudah diterima sebagai alternatif nasi. Menurut Ananias, sorgum putih dapat dimasak menggunakan peralatan rumah tangga setelah direndam terlebih dahulu.

“Kalau sorgum putih, cara memasaknya cukup mudah. Direndam satu malam, kemudian dimasukkan ke magic com, sudah bisa menjadi nasi,” jelasnya.

Selain bijinya yang dapat diolah menjadi bahan pangan, batang sorgum juga berpotensi menghasilkan cairan manis yang dapat diproses lebih lanjut.

Ananias menambahkan, budidaya sorgum dan jelai tidak selalu membutuhkan lahan persawahan dengan sistem pengairan seperti tanaman padi. Meski demikian, lokasi dan teknik budidaya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing tanaman.

Melalui rencana pengembangan bersama KWT di 20 kawasan, Disketapang Kukar berupaya memperkenalkan sumber karbohidrat alternatif sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil panen melalui pengolahan dan pemasaran. Keberlanjutan program akan bergantung pada kesesuaian lahan, keberhasilan budidaya, serta peluang pasar bagi produk yang dihasilkan. (Adv/Ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x