Lantai Jemur Padi Portable Kukar Terkendala Lahan, Target 500 Unit Belum Tercapai

Admin
12 Okt 2026 12:13
2 menit membaca

MEMONESIA.COM, Tenggarong – Program bantuan lantai jemur portable bagi petani di Kutai Kartanegara (Kukar) masih menghadapi kendala penempatan. Ukuran fasilitas yang mencapai 4 x 25 meter dinilai belum sesuai dengan kondisi lahan sejumlah kelompok tani, sehingga Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar mengevaluasi dimensinya untuk pengadaan berikutnya.

Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan satu unit lantai jemur portable memiliki kapasitas sekitar dua ton untuk sekali penjemuran. Namun, ukuran tersebut membutuhkan area cukup luas, sementara tidak semua kelompok tani memiliki lahan yang memadai.

Kendala itu salah satunya dialami kelompok tani di wilayah Bukit Biru. Mereka sempat kesulitan menemukan lokasi yang cukup luas untuk menempatkan fasilitas tersebut.

Sebagai alternatif, Disketapang menyarankan agar lantai jemur ditempatkan di ujung jalan usaha tani. Pemerintah juga membuka kemungkinan penyesuaian ukuran agar fasilitas lebih mudah digunakan sesuai kondisi lahan penerima.

“Setelah ada permohonan dari kelompok tani, kami akan mengecek kondisi di lapangan, termasuk kebutuhan dan ketersediaan lahannya,” kata Ananias, Senin (12/10/2026).

Evaluasi ini menjadi bahan pertimbangan dalam pengadaan berikutnya. Disketapang ingin memastikan fasilitas yang disalurkan tidak hanya mampu mendukung pengeringan hasil panen, tetapi juga bisa ditempatkan dan dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani.

Lantai jemur portable merupakan bagian dari program Kukar Idaman Terbaik yang menargetkan pengadaan 500 unit selama masa kepemimpinan bupati. Fasilitas ini difokuskan untuk membantu penanganan pascapanen, terutama komoditas padi dan jagung.

Berbeda dengan lantai jemur permanen, fasilitas ini dapat dipindahkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan tempat. Penggunaannya juga dinilai lebih hemat biaya karena petani tidak perlu membangun fasilitas permanen di lahan khusus.

Ananias menjelaskan, konsep lantai jemur tersebut diadaptasi dari teknologi tunnel untuk pengeringan garam di Jawa Timur, lalu dimodifikasi sesuai kebutuhan petani di Kukar. Meski berpotensi digunakan untuk komoditas lain, seperti ikan, rumput laut, dan kopi, program saat ini masih diprioritaskan untuk padi dan jagung.

Dari sisi realisasi, pengadaan hingga akhir 2025 telah mencapai lebih dari 100 unit. Fasilitas tersebut disalurkan ke sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Tenggarong, Anggana, Muara Kaman, dan Tenggarong Seberang.

Namun, pengadaan belum kembali dilaksanakan sepanjang 2026. Dengan target 500 unit, kebutuhan yang belum terpenuhi masih lebih dari 300 unit.

Ananias mengatakan Disketapang terus menjajaki dukungan agar program dapat berlanjut, termasuk melalui komunikasi dengan pihak swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

“Efisiensi bukan menjadi alasan untuk kami berdiam diri. Kami tetap berkomunikasi dengan pihak swasta dan stakeholder lainnya agar program-program yang sudah direncanakan tetap bisa sampai kepada masyarakat,” tegasnya. (Adv/Ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x