Penutupan sekaligus pembukaan pelatihan berbasis kompetensi BLKI Kota Bontang.BONTANG — UPTD Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Kota Bontang di bawah naungan Disnakertrans Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) resmi menutup lima paket pelatihan berbasis kompetensi di 2025, Kamis (27/11), di Aula BLKI Bontang.
Kepala UPTD BLKI Kota Bontang, Ismid Rizal, menyampaikan pelatihan yang ditutup meliputi Pemasangan Instalasi Listrik Bangunan Sederhana II dengan 16 peserta, di mana 12 dinyatakan lulus dan 4 belum lulus. Kemudian Pelatihan Welder SMAW 3G VII–X diikuti 64 peserta, sebanyak 58 lulus dan 6 belum lulus.
Pelatihan Pengelola Sekretaris Junior IV diikuti 16 peserta, 12 lulus dan 4 belum lulus. Selanjutnya pelatihan Menjahit Pakaian Wanita Dewasa dengan 16 peserta, 14 lulus dan 2 belum lulus. Sementara Pelatihan Hidroponik diikuti 16 peserta dan 15 peserta berhasil lulus.
Ismid juga menyebutkan BLKI membuka dua pelatihan baru, yaitu Pemasangan Instalasi Listrik Sederhana yang menerima 16 peserta dari total 20 pendaftar, serta Plate Welder SMAW 3G yang mengakomodasi 32 peserta dari 38 pendaftar.
“Ada dua pelatihan dilaksanakan melalui kerja sama dengan Lapas Kelas IIA Bontang, yaitu pelatihan Hidroponik yang telah rampung, serta pelatihan Housekeeping yang saat ini masih berlangsung,” jelasnya.
Sekretaris Disnakertrans Provinsi Kaltim, Aji Syahdu Gagah Citra, menegaskan bahwa pelatihan berbasis kompetensi bukan sekadar agenda rutin, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun tenaga kerja yang kompeten, profesional, dan memiliki daya saing.
“Pelatihan yang berkualitas merupakan salah satu langkah kunci untuk menekan pengangguran dan mengurangi kesenjangan kompetensi (skill gap),” ujarnya.
Wali Kota Bontang melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Sony Suwito Adicahyono, turut hadir untuk membuka sekaligus menutup rangkaian kegiatan. Ia menilai bahwa SDM yang unggul dan adaptif menjadi kunci bagi Bontang menuju kota industri yang produktif dan modern.
“Tentunya melalui pelatihan berkompetensi seperti ini, sehingga generasi muda bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja, tapi juga mampu menciptakan peluang kerja,” katanya.
Sony juga memberi apresiasi atas ketegasan BLKI terhadap standar kelulusan. Menurutnya, fakta bahwa tidak semua peserta berhasil lulus menunjukkan bahwa BLKI benar-benar menjaga kualitas output pelatihan.
“Awalnya saya pikir semua yang ikut BLKI pasti lulus. Tapi ketika mendengar ada peserta yang tidak lulus, saya justru bangga. Ini bukti bahwa pemerintah provinsi menyiapkan tenaga kerja yang benar-benar siap diterjunkan ke lapangan,” ungkapnya.
Ia turut mengapresiasi pelibatan warga binaan Lapas dalam pelatihan tersebut. Keterampilan yang dibekalkan, menurutnya, akan menjadi modal penting bagi mereka saat kembali ke tengah masyarakat.
Tidak ada komentar