Kepala Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Wahyuddin Usman. (Memonesia/Han)SANGATTA – Keamanan dan harmoni di Desa Swarga Bara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam dua dekade terakhir kerap dijadikan contoh toleransi, keberagaman suku dan budaya namun tetap hidup dalam kerukunan, desa ini disebut-sebut sebagai miniatur Indonesia. Namun di balik cerita rukun antarwarga, kekhawatiran konflik sudah seharusnya perlu diantisipasi, dengan tetap adanya sistem pengawasan yang memadai.
Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, menyebut desanya layak disebut miniatur Indonesia karena warga dari Bugis, Jawa, Banjar, Makassar, Toraja hingga berbagai etnis lain telah hidup berdampingan sejak desa terbentuk sekitar 1999–2000. Situasi rukun yang terjaga disebutnya sebagai bukti kuatnya nilai toleransi yang telah mengakar.
“Keberagaman keyakinan pun ikut hadir dan berkembang seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Kita di sini banyak adat dan suku,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).

Ia menegaskan sejak awal berdiri belum pernah terjadi gesekan antarsuku maupun antaragama. Baginya, catatan nihil konflik itu menjadi kebanggaan sekaligus modal sosial desa.
“Sejak desa ini berdiri, alhamdulillah tidak pernah ada konflik terkait suku maupun keyakinan. Ini yang membuat kami bersyukur dan bangga,” katanya.
Meski begitu, kondisi aman yang bertahan lama bukan tanpa risiko. Dengan intensitas aktivitas sosial yang tinggi—mulai dari gotong royong, perayaan keagamaan, hingga kegiatan desa—Swarga Bara mengandalkan budaya saling menghormati untuk meredam potensi gesekan tanpa didukung mekanisme deteksi dini yang terstruktur.
Wahyuddin mengakui keberagaman yang menyatu juga mendorong perkembangan desa. Interaksi lintas komunitas disebut memperkaya budaya lokal dan melahirkan berbagai usaha kecil maupun keterampilan warga.
“Keberagaman adalah kekuatan. Dengan kondisi seperti ini, desa kami justru semakin kaya nilai dan semakin mudah berkembang,” jelasnya.
Ia berharap nilai harmoni terus terjaga di tengah dinamika sosial yang makin kompleks. Swarga Bara, menurutnya, ingin tetap menjadi contoh bahwa toleransi bisa dijalankan melalui praktik keseharian masyarakat.
“Hingga kini, Swarga Bara tetap dikenal sebagai desa yang aman, kondusif, dan terbuka bagi siapa saja—cerminan kecil dari wajah Indonesia yang majemuk,” ucapnya.
Tidak ada komentar