Konferensi pers, kasus narkotika Polres Kutim, Senin (23/2/2026). Foto (Han/memonesia)SANGATTA – Peredaran narkotika di Kutai Timur pada awal 2026 menunjukkan angka yang mencemaskan. Dalam periode 1 Januari hingga 23 Februari 2026, aparat menyita total 537,7 gram sabu—setara lebih dari setengah kilogram—dari 29 kasus yang berhasil diungkap.
Data tersebut dirilis Satuan Reserse Narkoba Polres Kutai Timur, yang dalam dua bulan pertama tahun ini telah mengamankan 34 tersangka.
Kasat Resnarkoba Erwin Susanto mengungkapkan, dari total tersangka yang ditangkap, 31 di antaranya laki-laki dan tiga perempuan.
“Selama Januari hingga 23 Februari, kami menangani 29 laporan polisi dengan 34 tersangka,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Jika dihitung menggunakan estimasi harga terendah Rp1,5 juta per gram, nilai sabu yang beredar dan berhasil disita tersebut mencapai lebih dari Rp806 juta. Jumlah itu mencerminkan besarnya perputaran uang narkotika di wilayah ini hanya dalam waktu kurang dari dua bulan.
Polisi memperkirakan sekitar 2.689 jiwa dapat diselamatkan dari potensi penyalahgunaan narkoba berdasarkan jumlah barang bukti yang diamankan. Namun, tingginya angka pengungkapan juga menjadi indikator bahwa Kutai Timur masih menjadi wilayah rawan peredaran.
Salah satu kasus menonjol terjadi pada 22 Februari 2026. Tiga tersangka berinisial RAS, LAR, dan MA ditangkap di Jalan Tongkonan Rannu dan Jalan Yos Sudarso I dengan barang bukti 104,64 gram sabu dalam 34 bungkus plastik. Kasus tersebut melibatkan karyawan yang diduga menyalahgunakan narkotika di lingkungan kerja.
Pengungkapan besar lainnya dilakukan Polsek Muara Wahau dengan sitaan 221,73 gram sabu. Tersangka dalam kasus ini diketahui merupakan residivis.
Berdasarkan pemetaan kepolisian, dua kecamatan yang paling dominan dalam kasus narkoba di Kutai Timur adalah Sangatta dan Wahau. Polisi juga mengungkap para pelaku menggunakan sistem “jejak” atau metode tempel, di mana kurir dan bandar tidak bertemu langsung, sehingga mempersulit pengembangan jaringan hingga ke tingkat lebih tinggi.
Meski demikian, aparat menegaskan komitmennya untuk terus mendalami pola distribusi tersebut guna membongkar jaringan yang lebih luas.
Tidak ada komentar