Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat berkunjung ke SMPN 1 Bontang.BONTANG – Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, SMP Negeri 1 (SPANSA) Bontang memilih langkah berbeda dengan tetap merawat tradisi Majalah Dinding (Mading) sebagai ruang ekspresi kreatif siswa. Budaya literasi konvensional ini justru kembali hidup di saat hampir semua aktivitas belajar beralih ke platform digital.
Kepala SMPN 1 Bontang, Riyanto, mengatakan Mading masih memiliki posisi penting dalam membentuk karakter literasi peserta didik. Meski teknologi memberi akses luas dan serba cepat, proses kreatif di Mading dinilai lebih menyeluruh dan mendidik.
“Mading itu melatih proses. Anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga belajar memproduksi karya menulis, menggambar, riset, hingga kerja sama tim,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Riyanto menyebut, meski sekolah telah aktif menggunakan sarana digital—mulai aplikasi pembelajaran hingga grup belajar online—minat siswa terhadap Mading tidak memudar. Setiap bulan, papan Mading sekolah dipenuhi karya siswa, mulai artikel bertema budaya, isu lingkungan, hingga cerpen dan puisi.
Kegiatan Mading bahkan menjadi salah satu yang paling diminati saat HUT SPANSA Bontang. Lomba rangkai Mading rutin menjadi magnet, dengan tiap kelas mengirimkan tim untuk menampilkan kemampuan mereka dalam desain visual dan penulisan.
“Setiap kelas mengirimkan peserta, dan hasil karya mereka kami tampilkan saat acara HUT SPANSA. Kreativitas yang muncul luar biasa,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa sekolah akan tetap menjaga keberlangsungan budaya Mading sebagai bentuk keseimbangan antara literasi digital dan literasi konvensional. Keduanya, kata Riyanto, bukan untuk saling menggantikan, melainkan berjalan berdampingan sesuai kebutuhan perkembangan siswa.
Tidak ada komentar