Kepala Bidang DTPHP Kutim, Dessy. (Memonesia/Han)SANGATTA – Minat generasi muda Kutai Timur (Kutim) untuk terjun ke sektor pertanian terus mengalami penurunan. Banyak anak muda lebih memilih bekerja di sektor pertambangan karena dianggap menawarkan pendapatan lebih tinggi dan prospek karier yang jelas. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi masa depan ketahanan pangan daerah.
Di sisi lain, Kutim tengah berupaya mengurangi ketergantungan pada sektor pertambangan sebagai penopang utama perekonomian. Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, bahkan menargetkan daerahnya menjadi salah satu lumbung pangan nasional, sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan Indonesia swasembada pangan.
Untuk mengejar target tersebut, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim meluncurkan program Brigade Pangan—sebuah wadah pembinaan bagi anak muda yang ingin belajar dan terjun ke pertanian modern.

Kepala Bidang DTPHP Kutim, Dessy, mengatakan program ini dirancang untuk mengubah stigma pertanian sebagai pekerjaan berat, kotor, dan kurang menguntungkan.
“Kami ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian. Lewat Brigade Pangan, kami tunjukkan bahwa bertani bisa dilakukan dengan cara modern, efisien, dan tetap menguntungkan,” ucapnya, Rabu (12/11/2025).
Meski demikian, Dessy mengakui tantangannya tidak kecil. Rendahnya minat membuat regenerasi petani berjalan lambat, sementara kebutuhan daerah untuk memperkuat sektor pangan semakin mendesak.
Saat ini baru terbentuk enam kelompok Brigade Pangan yang tersebar di lima kecamatan—dua di antaranya berada di Kaubun. Para anggota dibina memahami teknik budidaya modern, manajemen usaha tani, hingga pemanfaatan teknologi baru.
DTPHP juga menyediakan dukungan sarana pertanian seperti hand tractor, traktor roda empat, rotavator, drone pertanian, hingga combine harvester. Modernisasi ini diharapkan dapat menarik minat anak muda yang selama ini enggan berkecimpung di pertanian.
“Sekarang bertani bisa dilakukan dengan cara yang lebih efisien. Anak muda tidak perlu takut kotor karena semuanya bisa dibantu dengan teknologi. Yang penting ada kemauan dan kreativitas,” jelasnya.
Dessy berharap Brigade Pangan dapat memperkuat fondasi Kutim dalam membangun sektor pangan yang lebih mandiri, sekaligus mendorong tumbuhnya petani-petani muda yang mampu melihat pertanian sebagai peluang ekonomi masa depan.
“Harapan kami, pertanian tetap menjadi sektor yang diminati dan mampu menjadi kekuatan baru bagi Kutai Timur,” ujarnya.
Tidak ada komentar