Siswa-siswi SDN 004 Bontang Utara menunjukan hasil karya kain batik dengan metode ecoprint. (Foto: Nr/Memonesia)BONTANG – Di halaman SD Negeri 004 Bontang Utara, sejumlah anak tampak sibuk menata daun-daun segar di atas kain putih. Wajah mereka serius, namun sesekali tersenyum bangga ketika melihat warna alami mulai menempel membentuk pola indah. Dari tangan-tangan mungil itu, lahirlah karya seni ramah lingkungan bernama Ecoprint.
Kegiatan ini bukan sekadar praktik seni biasa, melainkan bagian dari program kokurikuler sekolah yang menanamkan semangat kreativitas sekaligus kepedulian terhadap alam. Kepala SDN 004 Bontang Utara, Emelia, menuturkan bahwa Ecoprint kini menjadi fokus utama sekolah pada semester ini.
“Kalau dulu dikenal dengan P5, sekarang disebut kokurikuler. Tahun ini kami fokus pada kegiatan Ecoprint,” ujarnya sambil menunjukkan hasil karya siswa yang tergantung rapi di sudut kelas.
Program ini lahir dari kolaborasi antara sekolah dengan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Sebelum diterapkan kepada siswa, para guru lebih dulu mengikuti pelatihan intensif selama dua hari penuh. Dari sanalah muncul gagasan untuk membawa konsep Ecoprint ke ruang belajar, agar anak-anak bisa memahami bagaimana alam bisa menjadi sumber inspirasi seni.
“Setelah pelatihan, kami langsung menerapkannya di sekolah. Anak-anak sekarang sudah bisa membuat karya Ecoprint sendiri, mulai dari pola daun hingga pewarna alami,” jelas Emelia.
Tak berhenti di situ, hasil karya para siswa akan dimanfaatkan untuk pembuatan horden ruang kelas dan dipamerkan dalam pameran karya siswa pada Desember mendatang. Orang tua dan pihak PKT pun dijadwalkan hadir, sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil kolaborasi dan kerja keras anak-anak.
Menariknya, Ecoprint juga pernah dibawa ke Bontang City Carnival (BCC). Dengan penuh percaya diri, siswa SDN 004 Bontang Utara memamerkan kain hasil karya mereka di tengah kemeriahan karnaval kota, membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari bahan-bahan sederhana yang akrab dengan lingkungan sekitar.
“Setiap semester kami punya tema berbeda. Untuk semester ini fokusnya di Ecoprint, nanti bisa berganti sesuai rencana pembelajaran,” tambah Emelia.
Kini, Ecoprint tak hanya menjadi program belajar, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk mengenal alam dari dekat, mencintainya, dan mengekspresikan diri melalui karya. Dari tangan-tangan kecil itu, tumbuh kesadaran besar — bahwa seni dan lingkungan bisa berjalan seiring, indah, dan bermakna.
Tidak ada komentar