Dari 1.300 Warga Binaan Lapas Tenggarong, 31 Jalani Pelatihan Kerja

Admin
20 Okt 2026 15:06
3 menit membaca

MEMONESIA.COM, Tenggarong – Dari lebih 1.300 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong, baru sekitar 31 orang yang mengikuti pelatihan kemandirian. Lapas kini menyiapkan pengembangan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Pastarung agar pembinaan tak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membekali warga binaan dengan pengalaman produksi hingga pemasaran.

Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, I Wayan Nurasta Wibawa, mengatakan pengembangan program membutuhkan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan instansi terkait. Tujuannya, membuka lebih banyak ruang pembinaan yang terhubung dengan kebutuhan kerja dan peluang usaha.

Salah satu konsep yang disiapkan ialah Simpul Berdaya, singkatan dari Sinergi Pemasaran dan Pelatihan Lahan Terpadu. Program ini dirancang untuk menghubungkan pelatihan, pemanfaatan lahan, produksi, hingga pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan.

“Melalui Simpul Berdaya, kami ingin membangun keterhubungan antara pelatihan, pemanfaatan lahan, kegiatan produksi, dan pemasaran. Jadi, warga binaan tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam menjalankan kegiatan yang produktif,” jelas I Wayan.

SAE Pastarung berada di Jalan Mangkuraja, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, dengan luas sekitar 4.000 meter persegi. Sekitar 1.000 meter persegi digunakan untuk bangunan tempat tinggal, sementara 3.000 meter persegi sisanya berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

Sejumlah kegiatan yang dikembangkan meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, budi daya ayam petelur, produksi tempe, dan jasa pencucian kendaraan. Pengembangan Kafe Nahlok juga diarahkan untuk memperluas kegiatan produktif sekaligus memperkenalkan hasil pembinaan kepada masyarakat.

Namun, penambahan peserta tidak bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan kapasitas fasilitas, pendampingan, dan ketentuan pemasyarakatan. Pengembangan program akan dilakukan bertahap, termasuk melalui seleksi dan penilaian terhadap warga binaan yang dapat mengikuti kegiatan asimilasi.

Dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu kebutuhan untuk memperkuat program tersebut. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani, yang mewakili Bupati Kukar, menyatakan pihaknya siap mendukung sesuai bidang keahlian dan kebutuhan kegiatan.

“Secara moral, warga binaan ini adalah warga yang kami titipkan di lapas untuk dididik agar ketika keluar nanti menjadi lebih baik. Karena itu, kami dari pemerintah daerah, khususnya Distanak, akan tetap mendukung program SAE Pastarung,” ucap Rifani.

Dukungan Distanak dapat berupa penyuluhan, pendampingan teknis, dan alih pengetahuan di bidang pertanian. Bantuan sarana produksi, seperti benih sayuran, juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan perencanaan yang tersedia.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur, Yan Rusmanto, mengatakan pembinaan perlu terhubung dengan kebutuhan nyata agar warga binaan memahami proses kerja secara menyeluruh, termasuk pengelolaan usaha dan pemasaran hasil produksi.

“Pembinaan kemandirian harus memiliki hubungan dengan kebutuhan nyata. Karena itu, kegiatan di sini perlu mengintegrasikan proses belajar, praktik, produksi, dan pemasaran. Dengan begitu, warga binaan bisa memahami proses kerja secara lebih utuh,” ujar Yan.

Menurutnya, keberlanjutan program juga membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, instansi terkait, dan pelaku usaha. Kolaborasi diperlukan untuk memperkuat keterampilan warga binaan sekaligus membuka akses pasar bagi produk yang dihasilkan.

I Wayan berharap kerja sama tersebut diwujudkan melalui kegiatan nyata, bukan hanya kesepakatan. Pengembangan SAE Pastarung diharapkan dapat memperluas pembinaan secara bertahap dengan mengoptimalkan lahan, meningkatkan keterampilan, dan membuka peluang bagi warga binaan untuk memanfaatkan bekal tersebut setelah kembali ke masyarakat.

“Kami berharap kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi dapat diwujudkan melalui kegiatan yang berjalan dan memberi manfaat bagi warga binaan,” tuturnya. (Adv/Ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x