BERITA

Tiga Jurnalis Dapat Kekerasan Oknum Polisi, Liput Demo Penolakan Omnibus Law

Ilustrasi (wartakini.co)

MEMONESIA.COM – Kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Setidaknya tiga jurnalis dikabarkan mendapat kekerasan malam demo penolakan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja, di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (08/10).

Para jurnalis tersebut yakni Alsih Marselina, Adhy Rifaldy dan Windy. Sekira pukul 16.30 Wita, ketiganya dipukul meski sudah memperlihatkan id card pers. Namun, oknum polisi tidak menghiraukannya.

Seperti yang dialami Alsih, dipukul tepat ke arah wajahnya. Sementara Adhy mendapatkan pukulan di bahu bagian belakang, dan Windy terkena lemparan batu dari arah kerumunan polisi.

“Malam ini kami mencatat ada 3 jurnalis yang kembali menjadi korban kekerasan aparat kepolisian. Bahkan dua di antaranya yang jadi korban adalah perempuan, yang bekerja liputan jurnalistik dan dilengkapi dengan tanda pengenal id card,” ujar Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu Mohamad Iqbal di Mapolda Sulteng.

Menurut Iqbal, sikap tidak profesional sering dilakukan oknum anggota kepolisian di Sulteng. Kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi kepada jurnalis sudah sering terjadi kesekian kalinya.

Iqbal menilai selama ini tak ada keseriusan dari kepolisian untuk menindaklanjuti kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis.Untuk itu, ketiga jurnalis yang dipukul membuat laporan resmi ke Polda Sulteng.

“Jadi tanpa ada penyelesaian kasus yang melibatkan polisi, akan berulang terus karena tidak ada efek jera. Malam ini, ketiga korban sudah membuat laporan polisi (LP) di Polda Sulteng. Dan kami harap pelaku bisa diproses sesuai dengan aturan yang ada,”tutur Iqbal.

Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto menyesalkan aksi pemukulan itu. Polisi akan menyelidiki kasus pemukulan itu.

“Kami menyesalkan kejadian itu kembali terjadi dan memang saat itu kondisi di lapangan tidak terkendali. Namun, kami akan menindaklanjuti dan menelesuri aparat yang terlibat dalam pemukulan terhadap 3 jurnalis saat liputan demo,” katanya. (news.detik.com)

.
Comments

POPULER

To Top